- Maha Menteri Tedjowulan akan kumpulkan kerabat bahas suksesi PB XIII, hindari friksi.
- Pembahasan suksesi baru dimulai setelah 40 hari wafatnya PB XIII, fokus mendoakan.
- Tedjowulan tekankan koordinasi dengan pemerintah, sesuai SK Mendagri, jaga kerukunan.
SuaraJawaTengah.id - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali dihadapkan pada babak baru suksesi kepemimpinan.
Meninggalnya Raja Keraton Surakarta, Pakubuwono XIII (PB XIII), menyisakan teka-teki besar mengenai siapa yang akan menduduki takhta selanjutnya sebagai Pakubuwono XIV (PB XIV).
Di tengah duka mendalam, intrik dan spekulasi mulai mewarnai koridor-koridor keraton, memicu pertanyaan tentang stabilitas dan masa depan salah satu simbol kebudayaan Jawa ini.
Maha Menteri Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kangjeng Gusti Panembahan Agung Tedjowulan, kini menjadi sorotan utama.
Sebagai figur sentral yang disebut dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Nomor 430-2933 Tahun 2017, Tedjowulan memiliki peran krusial dalam menata kembali kepemimpinan keraton.
Ia berencana segera mengumpulkan seluruh kerabat, baik putra-putri PB XII maupun putra-putri PB XIII, untuk membahas suksesi ini.
"Atas dasar Keputusan Menteri Dalam Negeri, saya sebagai Maha Menteri Keraton Surakarta, dengan surutnya (meninggalnya) PB XIII diharapkan nanti saya mengumpulkan semua putra-putri PB XII dan putra-putri PB XIII untuk menata bersama-sama agar tidak terjadi friksi yang tidak baik,” ujarnya di Solo, Rabu (5/11/2025).
Pertemuan penting ini, menurut Tedjowulan, baru akan dilaksanakan setelah peringatan 40 hari wafatnya PB XIII. Fokus utama saat ini adalah mendoakan almarhum raja.
"Untuk saat ini belum, kami fokus mendoakan dulu. Perlu 40 hari,” katanya, menegaskan bahwa proses suksesi akan dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan penghormatan terhadap tradisi.
Baca Juga: Kejutan Cuan Menanti! Buruan Klaim 4 Link DANA Kaget, Ada Kesempatan Cuan Rp299 Ribu!
Namun, di balik pernyataan Tedjowulan, muncul desas-desus yang menyebutkan bahwa putra termuda PB XIII, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Purbaya, adalah sosok yang paling berhak menjadi PB XIV.
Menanggapi hal ini, Tedjowulan memilih untuk tidak banyak berkomentar.
"Boleh saja semua orang ngomong seperti itu, tetapi dasar yang digunakan dari Kemendagri kan ada, intinya apa. Monggo saja, tapi saya selaku yang tertua di situ,” ucapnya, mengisyaratkan bahwa keputusan akhir akan berlandaskan pada regulasi yang berlaku dan musyawarah kerabat.
Pernyataan Tedjowulan ini secara tidak langsung menyoroti kompleksitas suksesi di keraton, di mana tradisi, garis keturunan, dan regulasi pemerintah saling berkelindan.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga suasana kondusif.
"Harapan saya ke depan seperti apa, jangan cuma ribut saja, nggak suka saya. Saya kan nggak pernah mau ngomong ke mana-mana, ya untuk menjaga kerukunan semua. Undang-undang ada, jangan ribut saja, nanti diambil pemerintah loh. Kita mau apa,” tegasnya, mengingatkan akan potensi intervensi pemerintah jika friksi terus berlanjut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Holding UMi Genap 5 Tahun, BRI Perluas Ekosistem Keuangan untuk Masyarakat
-
Kafilah Maluku Utara Terkesan, Ungkap Sisi Lain Keramahan Warga Jateng di MTQ Nasional 2026
-
Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei
-
Kembalinya MTQ Nasional ke Jateng Setelah 47 Tahun, Pawai Ta'aruf di Semarang Langsung Diserbu Warga
-
Bukan Cuma untuk Umat Islam, MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama