- Konflik suksesi Keraton Kasunanan Surakarta muncul setelah wafatnya PB XIII karena dua putra sama-sama mengklaim tahta sebagai Paku Buwono XIV.
- KGPH Hangabehi dinobatkan oleh Dewan Adat pada 13 November 2025, sementara Mengkunegoro mengklaim berdasarkan wasiat raja yang disampaikan putrinya.
- Dualisme ini diperuncing oleh perbedaan interpretasi adat, termasuk keraguan atas status permaisuri yang melahirkan Mengkunegoro, memperkuat klaim yang berlawanan.
Berbeda dengan kubu Hangabehi, Mengkunegoro dinyatakan naik tahta berdasarkan wasiat mendiang raja. Keterangan ini disampaikan oleh GKR Timur Rumbai Kusuma Dewayani, putri tertua PB XIII. Prosesi jumenengan versi kubu ini kemudian dijadwalkan pada 15 November 2025.
7. Perpecahan Dipicu Ketidaksepakatan Keluarga Besar
GKR Timur menyayangkan adanya prosesi adat lain yang dilakukan tanpa kesepakatan keluarga besar. Ketidakhadiran kesepakatan kolektif inilah yang membuat konflik cepat membesar.
Dalam struktur keraton, sikap kompak menjadi kunci, dan saat itu runtuh, suksesi berubah menjadi perebutan legitimasi terbuka.
8. Mahamenteri Tejowulan Menjadi Figur Penyangga Konflik
Mahamenteri KGPAT Tejowulan yang ditunjuk pemerintah melalui SK Menteri Dalam Negeri berperan sebagai pengelola Keraton Surakarta. Ia meminta agar penentuan suksesi menunggu minimal 40 hari masa berkabung.
Menurut sejarah tata adat, penundaan ini lazim dilakukan agar keluarga dapat bermusyawarah tanpa tekanan emosional. Posisi Tejowulan pun menjadi krusial sebagai jembatan antara adat dan negara.
9. Dua Putra Raja Sama Sama Mengklaim Tahta Paku Buwono XIV
Inti persoalan kembali pada klaim ganda tersebut. KGPH Hangabehi dan KGPA A. H. Mengkunegoro masing masing menjalankan prosesi pengangkatan sendiri. Kedua kubu mengusung dasar legitimasi yang berbeda, baik adat maupun wasiat, sehingga konflik cepat meruncing dan memecah keraton menjadi dua poros kekuasaan.
Baca Juga: Siapa Pewaris Keraton Solo? 10 Fakta Penting Menuju Suksesi Pasca PB XIII
10. Polemik Status Permaisuri Memperuncing Konflik
Kubu Hangabehi mempersoalkan sah atau tidaknya status permaisuri yang melahirkan Mengkunegoro. Menurut perspektif adat lama, jika status permaisuri diragukan, putra tertua otomatis memiliki posisi istimewa dalam garis suksesi.
Perdebatan inilah yang membuat klaim Hangabehi dan Mengkunegoro saling meniadakan satu sama lain.
Drama dua raja tidak hanya soal siapa yang duduk di tahta, tetapi soal bagaimana keluarga besar memahami adat, menghargai etika dan menjaga martabat warisan budaya.
Ketika interpretasi adat berbeda dan komunikasi keluarga terputus, suksesi mudah berubah menjadi konflik berkepanjangan.
Menurut sejarah, keraton selalu mampu bertahan setelah konflik, tetapi wibawa yang hilang sering sulit dipulihkan. Masa depan Keraton Surakarta akan ditentukan bukan hanya oleh siapa rajanya, tetapi oleh kemampuan keluarga besar untuk berdamai dan menyusun mekanisme suksesi yang jelas agar drama seperti ini tidak terus berulang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
Pilihan
-
Buntut Polemik Suket Pendidikan Gibran, Subhan Palal Juga Gugat Pimpinan DPR-MPR
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
Terkini
-
Semen Gresik Gelar Silaturahmi dan Halalbihalal Bersama Ratusan Karyawan dan Mitra Usaha
-
Aktivis Mahasiswa Unissula Diculik dan Dianiaya, Diduga Terkait Advokasi Kasus Pelecehan Seksual
-
Salatiga Bersiap Jadi Pusat Padel Nasional: Visi Ambisius PBPI untuk Olahraga Modern
-
Pertama di Jawa Tengah: RS Telogorejo Terapkan Robot untuk Operasi Lutut dengan Presisi Tinggi
-
Earth Hour Jadi Pengingat Aksi Berkelanjutan, BRI Konsisten Kurangi Emisi