- Video udara penampakan tanah merah luas di Banyuwangi memicu kecemasan publik dan dugaan penggundulan hutan.
- Kondisi ini diduga akibat aktivitas pertambangan tidak terkendali di kawasan Tumpang Pitu, Jawa Timur.
- Warga Banyuwangi mengkhawatirkan potensi bencana alam seperti banjir dan longsor akibat kerusakan lingkungan tersebut.
SuaraJawaTengah.id - Baru-baru ini, sebuah video yang beredar di media sosial menampilkan penampakan kawasan tanah merah yang luas di Banyuwangi, Jawa Timur.
Video tersebut menunjukkan gambar dari udara dengan tulisan "POV: aku melihat Banyuwangi", yang memicu perhatian dan kecemasan publik.
Banyak warga yang terkejut dengan pemandangan yang mereka lihat, termasuk sejumlah netizen yang mengaitkan kondisi ini dengan dugaan penggundulan hutan di kawasan tersebut.
Dikutip dari Instagram @forbanyuwangi penampakan tanah merah yang terlihat mencolok ini dikatakan sebagai bagian dari daerah yang dikenal dengan nama Tumpang Pitu, sebuah kawasan yang selama ini terkenal dengan keindahan alam dan potensi ekosistemnya.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini mulai mengalami perubahan signifikan yang menimbulkan kekhawatiran akan kerusakan lingkungan.
Beberapa orang berpendapat bahwa tanah merah yang terlihat dari udara ini merupakan dampak dari aktivitas pertambangan dan pembukaan lahan yang tidak terkendali, yang diduga menyebabkan penggundulan hutan.
Reaksi Masyarakat dan Warga Banyuwangi
Banyak netizen yang membanjiri kolom komentar dengan respons cemas. Seorang pengguna Instagram dengan akun @yulieheinonen mengungkapkan kesedihannya, “Kita sangat sedih, yang asli dari Banyuwangi kemarin sudah terjadi banjir daerah sana,” mengindikasikan dampak dari kerusakan lingkungan yang telah terjadi.
Beberapa lainnya, seperti @titik_qomariyah, mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap bencana alam yang bisa timbul akibat kerusakan alam tersebut, dengan komentar yang berbunyi, “Waspada bencana alam ini.”
Dalam sebuah komentar, @wi_andrian mengungkapkan bahwa Banyuwangi sebelumnya dikenal dengan sumber daya alam yang melimpah, salah satunya adalah kawasan Santetnya, yang kini sudah berubah menjadi dikenal oleh pemerintah karena masalah tambang yang mulai merambah kawasan ini.
“Banyuwangi dulu dikenal sama masyarakat karena Santetnya. SEKARANG DIKENAL SAMA PEMERINTAH KARENA TAMBANGNYA,” tulisnya. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran citra yang signifikan mengenai kawasan ini.
Kaitan dengan Penggundulan Hutan dan Pertambangan
Aktivitas pertambangan yang tidak terkontrol di Banyuwangi telah menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir.
Penambangan liar yang sering terjadi tanpa izin dan pengawasan yang ketat dari pihak berwenang diduga menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan yang semakin parah.
Selain itu, penggundulan hutan untuk lahan pertanian dan pembangunan juga berkontribusi besar terhadap perubahan iklim lokal dan hilangnya berbagai jenis flora dan fauna yang ada di kawasan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
Holding UMi Genap 5 Tahun, BRI Perluas Ekosistem Keuangan untuk Masyarakat
-
Kafilah Maluku Utara Terkesan, Ungkap Sisi Lain Keramahan Warga Jateng di MTQ Nasional 2026
-
Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei
-
Kembalinya MTQ Nasional ke Jateng Setelah 47 Tahun, Pawai Ta'aruf di Semarang Langsung Diserbu Warga
-
Bukan Cuma untuk Umat Islam, MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama