- Sepuluh model mobil bekas di bawah Rp100 juta sebaiknya dihindari pembeli pemula karena potensi biaya perawatan tinggi dan masalah teknis.
- Beberapa model bermasalah spesifik seperti transmisi (Ford Fiesta, Serena), sistem pendinginan (Grand Livina), dan ketersediaan suku cadang (Chevrolet, Geely).
- Pembelian mobil bekas berisiko menimbulkan kerugian finansial jika suku cadang mahal, sulit ditemukan, dan bengkel tidak banyak menerima perbaikan.
7. Kia Picanto Matic 2008–2012
Kia Picanto berdesain imut dan cocok untuk penggunaan harian. Namun versi matiknya banyak dikeluhkan karena transmisi yang lemah, tidak responsif, dan rawan slip. AC juga terkenal kurang dingin saat macet atau siang hari. Ketersediaan spare part aftermarket masih terbatas dan biaya perbaikannya cukup menguras kantong.
8. Hyundai i10 2008
Hyundai i10 memiliki basis yang mirip dengan Kia Picanto. Masalahnya pun serupa. Mesin mudah bergetar, AC sering bermasalah, dan kaki-kaki cepat aus. Sebagai city car, i10 seharusnya praktis, namun justru sering merepotkan karena banyak part harus inden dan tidak semua bengkel mampu menanganinya.
9. Chevrolet Spark 2010
Chevrolet Spark terlihat lucu dan menarik, tetapi menyimpan banyak masalah. Mesin mudah overheat, sensor rawan rusak, dan AC sering bermasalah. Seperti Chevrolet lainnya, kendala utama ada pada ketersediaan spare part yang terbatas dan mahal, bahkan untuk kualitas aftermarket sekalipun.
10. Geely Panda
Geely Panda sempat viral karena desainnya yang unik dan lucu. Namun di balik tampilannya, kualitas build mobil ini jauh dari meyakinkan. Mesin kurang bertenaga, kualitas material seadanya, dan spare part sangat sulit ditemukan. Jika rusak, mencari part bisa menjadi mimpi buruk, terutama untuk komponen yang jarang diganti.
Mobil bekas murah memang menggoda, apalagi jika harganya di bawah Rp100 juta. Namun untuk pemula atau pembeli mobil pertama, sepuluh mobil di atas sebaiknya dihindari.
Baca Juga: 7 Mobil Matic Irit, Bandel, dan Minim Drama Buat Dipakai Harian
Biaya perawatan, ketersediaan spare part, dan potensi kerusakan bisa membuat pengeluaran membengkak dan pengalaman memiliki mobil menjadi tidak menyenangkan. Lebih baik memilih mobil yang sederhana, mudah dirawat, dan punya jaringan servis luas agar tidak menyesal di kemudian hari.
Kontributor : Dinar Oktarini
Berita Terkait
Terpopuler
- Singapura Diguncang Gelombang Protes Rakyatnya, Buntut Rencana Penggundulan Hutan untuk Perumahan
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Tiga Tahun Kembangkan Rokok HS, Ini Kiat Sukses Owner M. Suryo: Inovasi dan Semangat Berbagi
-
HS Slim Double jadi Rokok Paling Laris, Muhammad Suryo Minta Maaf Belum Bisa Penuhi Permintaan Pasar
-
Maba UII Langsung Juara Campus League, Alfira Deanika Tundukkan Unggulan UNESA
-
Semen Gresik Salurkan Bantuan Tanggap Darurat Bencana bagi Korban Gempa di Nagekeo NTT
-
Bisikan Sang Ayah Bikin Agil Bangkit, Mahasiswa UT Ini Raih Podium Campus League