- Jenazah Syafiq Ridhan Ali Razan (18 tahun) akan diautopsi di RSMRA Moga Pemalang sebelum dipulangkan ke Kota Magelang.
- Evakuasi dari puncak Gunung Slamet ke Basecamp Dipajaya terkendala cuaca buruk dan membutuhkan waktu perkiraan sepuluh jam.
- Dugaan penyebab kematian korban adalah hipotermia akut, terlihat dari kondisi pakaian yang dilepas secara tidak wajar.
SuaraJawaTengah.id - Sebelum dipulangkan ke Kota Magelang, jenazah Syafiq Ridhan Ali Razan (18 tahun) akan dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah Rodliyah Achid (RSMRA) Moga Pemalang untuk menjalani proses autopsi. Dugaan sementara korban meninggal akibat hipotermia.
Menurut Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Kota Magelang, Catur Budi Fajar Sumarmo, proses evakuasi terhambat kondisi cuaca buruk di puncak Gunung Slamet. Proses evakuasi yang seharusnya diumulai tadi malam, baru bisa dilakukan pagi hari.
"Alhamdulillah pagi ini tadi pukul 05, tim SAR sudah turun ke Bawah dan berhasil mengangkat mas Ali ke atas. Ini dalam proses penurunan dari puncak menuju ke Basecamp Dipajaya melalui Gunung Malang," kata Catur, Kamis (15/1).
Dari Basecamp Dipajaya, jenazah Syafiq Ali akan dibawa ke RS Moga di Pulosari untuk diautopsi. "Dari Basecap Dipajaya akan langsung kita bawa ke RSI Moga daerah Pulosari. Nanti akan autopsy di sana sekaligus kita sucikan. Nanti baru dibawa ke Magelang."
Berdasarkan informasi yang diterima, lama perjalanan evakuasi dari puncak Slamet ke Basecamp Dipajaya membutuhkan waktu 10 jam. Sedangkan lama autopsy di RS membutuhkan waktu 2-3 jam.
Menurut informasi di lapangan, kondisi jenazah masih utuh. Jasad ditemukan di kawasan yang masih berdekatan dengan lokasi awal saat korban terakhir terpisah dari rombongan pendakian."Baru informasi dulu saja, (jenazah) masih utuh. Kaki dan tangan patah."
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Ketua Operasi SAR Wanadri, Arie Affandi, tim juga menemukan sejumlah barang pribadi milik korban yang berserakan di sekitar titik penemuan. Barang-barang yang diduga milik korban antara lain dompet, tracking pole, dan selimut darurat (emergency blanket).
Menurut Arie, kondisi jenazah dalam keadaan tidak tertimbun material apa pun. Dari hasil pengamatan tim SAR di lapangan, korban diperkirakan meninggal beberapa hari sebelum ditemukan.
Dugaan sementara korban meninggal akibat hipotermia akut. Sebab ditemukan pakaian korban yang tidak lagi dikenakan lengkap.
Baca Juga: Terungkap! Ini 3 Lokasi Tambang yang Bikin Gunung Slamet Gundul
Kondisi hipotermia saat korban melepas pakaiannya disebut Paradoxical Undressing (membuka pakaian secara paradoks). Pada kondisi kedinginan akut, korban justru merasa sangat panas karena otak (hipotalamus) mengalami malafungsi akibat perubahan suhu ekstrem.
Tanpa sadar korban melepas pakaiannya sehingga memperburuk kondisi dan meningkatkan risiko kematian. Kondisi ini terjadi pada kasus hipotermia sedang hingga berat karena korban kebingungan dan disorientasi. Akibatnya korban kehilangan panas tubuh dan dapat berujung fatal.
Kontributor : Angga Haksoro Ardi
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
- Viral Karnaval Mirip Ritual Satanisme di Pekalongan, Ada Penyembelihan Hewan dan Okultisme
- Polisi Sebut Wanita di Video Viral Biksu Thailand Mendadak Kaya Sejak Bolak Balik Masuk Kuil
Pilihan
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
-
Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
Terkini
-
Raih Predikat Prestisius Golden Medal 2026, Semen Gresik Pertahankan Bintang Lima TOP GRC
-
Pelabuhan Tanjung Emas Didorong Naik Kelas Jadi Gerbang Utama Ekspor-Impor
-
Kalah dari Persita, Fabio Lefundes: Java United FC Masih Berproses
-
Ketika Al-Qur'an Satukan Semua Golongan: Cerita Dibalik Megahnya MTQ Nasional di Jateng
-
Kendal Tornado FC Menangi Laga Perdana, Presiden Klub Ingin Tim Konsisten dan Disiplin