- Pendaki Syafiq Ridhan Ali Razan (18) hilang saat pendakian cepat "tektok" di Gunung Slamet, gunung tertinggi Jawa Tengah.
- Medan Slamet berbahaya karena jurang tersembunyi oleh vegetasi lebat dan perubahan cuaca ekstrem yang mendadak.
- Banyaknya jalur, risiko satwa liar, serta aturan ketat bagi pendaki "tektok" menyoroti persiapan penting pendakian.
SuaraJawaTengah.id - Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah dengan ketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl), kembali menelan korban.
Syafiq Ridhan Ali Razan (18), seorang pendaki, dinyatakan hilang misterius saat melakukan pendakian cepat atau "tektok" bersama temannya, Himawan Choidar Bahran.
Insiden ini menyoroti berbagai fakta mengerikan tentang Gunung Slamet yang seringkali diabaikan para pendaki, terutama mereka yang memilih metode tektok.
1. Medan Terjal dan Jurang Curam Tak Terlihat
Salah satu tantangan utama di Gunung Slamet adalah medannya yang terjal dan jurang-jurang curam yang seringkali tidak terlihat jelas.
Hariyawan Agung Wahyudi, seorang pegiat lingkungan dan pendaki gunung, menjelaskan bahwa "di Gunung Slamet, di bagian tengah kisaran ketinggian 2.500 mdpl, vegetasinya masih sangat baik, sehingga sulit untuk melihat tebing atau jurang yang curam, apalagi kalau hujan."
Kondisi ini sangat berbahaya, terutama saat cuaca buruk atau kabut tebal, yang bisa membuat pendaki kehilangan orientasi dan terjatuh ke jurang.
2. Perubahan Cuaca Ekstrem dan Mendadak
Cuaca di Gunung Slamet dikenal sangat tidak menentu dan bisa berubah drastis dalam waktu singkat.
Baca Juga: Evakuasi Dramatis di Gunung Slamet: Seorang Pendaki Ditemukan Meninggal Dunia
Slamet Prayitno, penghobi trail run yang sering mendaki Gunung Slamet, mengungkapkan, "Gunung Slamet itu masih memiliki hutan yang lebat. Cuacanya kerap berubah. Lima hingga 10 menit cerah, tiba-tiba mendung dan hujan deras, bahkan disertai angin. Fenomena tersebut sering terjadi terutama di atas 2.000 mdpl."
Perubahan cuaca ekstrem ini, seperti kabut tebal, hujan lebat, dan badai, menjadi kendala besar dalam operasi pencarian Syafiq.
Handika Hengki dari Basarnas Semarang Unit SAR Pemalang juga menyebutkan bahwa "ketika cuaca buruk terjadi, maka harus benar-benar berhati-hati, karena lembah yang curam tidak kelihatan."
3. Vegetasi Hutan Sangat Lebat
Gunung Slamet memiliki vegetasi hutan yang sangat lebat, terutama di ketinggian menengah. Kondisi ini, meskipun indah, juga menjadi faktor penyulit dalam pencarian orang hilang.
Hutan yang rapat membuat jarak pandang terbatas dan menyulitkan tim SAR untuk menemukan jejak. Selain itu, vegetasi lebat juga bisa menjadi habitat bagi hewan liar.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
10 Fakta Gunung Slamet yang Mengerikan, Penyebab Pendaki Syafiq Ridhan Ali Razan Hilang Misterius
-
Fakta-fakta Mengejutkan Reza Pahlavi, Sosok yang Ingin Gulingkan Rezim Iran
-
10 Mobil LCGC Terbaik dengan Harga 100 Jutaan yang Wajib Anda Miliki!
-
7 Langkah Cepat Pemprov Jateng Atasi Bencana di Jepara, Kudus, dan Pati
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang