Budi Arista Romadhoni
Rabu, 14 Januari 2026 | 09:15 WIB
Gunung Slamet terlihat dari arah Kabupaten Banyumas. [ANTARA/Sumarwoto]
Baca 10 detik
  • Pendaki Syafiq Ridhan Ali Razan (18) hilang saat pendakian cepat "tektok" di Gunung Slamet, gunung tertinggi Jawa Tengah.
  • Medan Slamet berbahaya karena jurang tersembunyi oleh vegetasi lebat dan perubahan cuaca ekstrem yang mendadak.
  • Banyaknya jalur, risiko satwa liar, serta aturan ketat bagi pendaki "tektok" menyoroti persiapan penting pendakian.

SuaraJawaTengah.id - Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah dengan ketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl), kembali menelan korban.

Syafiq Ridhan Ali Razan (18), seorang pendaki, dinyatakan hilang misterius saat melakukan pendakian cepat atau "tektok" bersama temannya, Himawan Choidar Bahran.

Insiden ini menyoroti berbagai fakta mengerikan tentang Gunung Slamet yang seringkali diabaikan para pendaki, terutama mereka yang memilih metode tektok.

1. Medan Terjal dan Jurang Curam Tak Terlihat

Salah satu tantangan utama di Gunung Slamet adalah medannya yang terjal dan jurang-jurang curam yang seringkali tidak terlihat jelas.

Hariyawan Agung Wahyudi, seorang pegiat lingkungan dan pendaki gunung, menjelaskan bahwa "di Gunung Slamet, di bagian tengah kisaran ketinggian 2.500 mdpl, vegetasinya masih sangat baik, sehingga sulit untuk melihat tebing atau jurang yang curam, apalagi kalau hujan."

Kondisi ini sangat berbahaya, terutama saat cuaca buruk atau kabut tebal, yang bisa membuat pendaki kehilangan orientasi dan terjatuh ke jurang.

2. Perubahan Cuaca Ekstrem dan Mendadak

Cuaca di Gunung Slamet dikenal sangat tidak menentu dan bisa berubah drastis dalam waktu singkat.

Baca Juga: Evakuasi Dramatis di Gunung Slamet: Seorang Pendaki Ditemukan Meninggal Dunia

Slamet Prayitno, penghobi trail run yang sering mendaki Gunung Slamet, mengungkapkan, "Gunung Slamet itu masih memiliki hutan yang lebat. Cuacanya kerap berubah. Lima hingga 10 menit cerah, tiba-tiba mendung dan hujan deras, bahkan disertai angin. Fenomena tersebut sering terjadi terutama di atas 2.000 mdpl."

Perubahan cuaca ekstrem ini, seperti kabut tebal, hujan lebat, dan badai, menjadi kendala besar dalam operasi pencarian Syafiq.

Handika Hengki dari Basarnas Semarang Unit SAR Pemalang juga menyebutkan bahwa "ketika cuaca buruk terjadi, maka harus benar-benar berhati-hati, karena lembah yang curam tidak kelihatan."

3. Vegetasi Hutan Sangat Lebat

Gunung Slamet memiliki vegetasi hutan yang sangat lebat, terutama di ketinggian menengah. Kondisi ini, meskipun indah, juga menjadi faktor penyulit dalam pencarian orang hilang.

Hutan yang rapat membuat jarak pandang terbatas dan menyulitkan tim SAR untuk menemukan jejak. Selain itu, vegetasi lebat juga bisa menjadi habitat bagi hewan liar.

Load More