- Dugaan penipuan rekrutmen kerja RSUD Kudus mencuat pasca OTT KPK di Pati, menyeret oknum anggota DPRD Kudus.
- Korban warga Jepara melapor ke Polres Kudus setelah menyerahkan total Rp25 juta untuk janji kerja pramusaji.
- Polres Kudus mengonfirmasi laporan pada Mei 2025, namun menangani kasus ini sebagai dugaan penipuan, bukan jual beli jabatan.
SuaraJawaTengah.id - Pasca operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan jual beli jabatan perangkat desa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada Senin (19/1/2026), bayang-bayang praktik serupa kembali mencuat.
Kali ini, sorotan publik mengarah ke lingkungan RSUD dr Loekmono Hadi Kudus setelah muncul laporan dugaan penipuan berkedok rekrutmen kerja yang menyeret nama oknum anggota DPRD Kudus.
Informasi ini ramai diperbincangkan setelah diunggah oleh akun Facebook Bang Jago dan Instagram Lintas Kudus Official. Berikut rangkuman fakta penting kasus tersebut.
1. Dugaan Kasus Mencuat Usai OTT KPK di Pati
Isu dugaan jual beli jabatan di RSUD Kudus muncul tak lama setelah KPK melakukan OTT di Kabupaten Pati. Publik pun mulai menyoroti kemungkinan praktik serupa merambah ke sektor kesehatan.
Akun Facebook Bang Jago dalam unggahannya pada Minggu (25/1/2026) menulis, “Apakah OTT bergeser ke Kudus… jual beli pegawai rumah sakit RSUD dr Loekmono Hadi Kudus,” seraya menyebut adanya korban yang melapor ke polisi.
2. Korban Seorang Warga Jepara, Dijanjikan Kerja di RSUD Kudus
Korban dalam kasus ini adalah Ulil Absor (29), warga Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Ulil mengaku menjadi korban penipuan setelah dijanjikan bisa bekerja sebagai pramusaji di RSUD Kudus.
Didampingi kuasa hukumnya, Ali Taufik, Ulil resmi melapor ke Polres Kudus pada 22 April 2025. Laporan tersebut tercatat dengan nomor STPP/70/IV/2025/Reskrim.
Baca Juga: 7 Fakta Banjir dan Longsor Mengerikan yang Menghantam Kudus, 1 Korban Tewas!
3. Awal Mula: Bertemu Perantara yang Mengaku Punya Akses Lowongan
Peristiwa bermula saat Ulil bertemu seseorang berinisial MN, yang mengaku memiliki akses lowongan kerja di RSUD Kudus. Dari pertemuan itu, Ulil kemudian dipertemukan dengan pria lain berinisial FS di kediamannya.
“Setelah bertemu Pak FS, saya diberi tahu ada lowongan kerja bagian pramusaji di RSUD Kudus,” ujar Ulil kepada wartawan.
4. Diminta Rp10 Juta, Disebut untuk Anggota DPRD dan Pejabat Daerah
Dalam pertemuan lanjutan, Ulil bersama ibunya kembali mendatangi rumah FS. Di sana, ia diminta membayar uang yang disebut sebagai “akomodasi masuk kerja” sebesar Rp10 juta.
Dari jumlah itu, Ulil mengaku mendapat penjelasan bahwa Rp5 juta akan diberikan kepada oknum anggota DPRD Kudus berinisial M, sementara Rp5 juta lainnya untuk oknum pejabat daerah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Beredar 24 Nama Terseret Kasus BGN, Kuasa Hukum Sony Sonjaya: Nama Itu Sudah Diserahkan ke Penyidik
Pilihan
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
Terkini
-
BRI Gelar Buyback Fluktuatif Rp500 Miliar, Optimistis Fundamental Tetap Kuat
-
Semen Gresik Konsisten Salurkan Beasiswa Prasejahtera kepada 120 Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri
-
Sokong MBG, Taj Yasin Minta SPPG Belanja Telur dari Peternak Lokal
-
Pemprov Jateng Buka Ribuan Kursi Sekolah Gratis, Sasar Anak Keluarga Kurang Mampu
-
Wakil Ketua DPRD Jateng Dorong Sumur Bor JadI Solusi Petani Tak Gagal Panen saat Kemarau