- BPS Jawa Tengah mencatat kemiskinan turun menjadi 3,34 juta jiwa (9,39%) per September 2025.
- Penurunan ini didorong pertumbuhan ekonomi 5,37% dan penurunan TPT menjadi 4,66%.
- Garis Kemiskinan per kapita ditetapkan Rp570.870,00 dengan indeks ketimpangan menurun 0,009 poin.
SuaraJawaTengah.id - Kabar baik datang dari Jawa Tengah. Badan Pusat Statistik (BPS) mengklaim bahwa jumlah penduduk miskin di provinsi ini mengalami penurunan yang signifikan pada September 2025.
Data terbaru menunjukkan angka kemiskinan turun menjadi 3,34 juta orang atau 9,39 persen, sebuah penurunan sebesar 0,09 persen dibandingkan Maret 2025.
Kepala BPS Jateng, Ali Said, dalam keterangannya di Semarang, Kamis, menjelaskan bahwa penurunan ini didorong oleh beberapa faktor kunci.
"Perekonomian Jawa Tengah tumbuh impresif sebesar 5,37 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan III 2025," ungkap Ali Said dikutip dari keterangan tertulis pada Jumat (6/2/2026).
Selain itu, peningkatan produksi padi sebesar 484 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG) juga turut berkontribusi, menunjukkan sektor pertanian yang resilient.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga dilaporkan menurun menjadi 4,66 persen, menandakan semakin banyaknya lapangan kerja yang tersedia.
"Jumlah penduduk miskin di Jateng pada September 2025 tercatat 3,34 juta orang. Kalau dibandingkan Maret 2025 jumlah penduduk miskin mengalami penurunan 21,86 ribu orang. Jika dibandingkan September 2024, tercatat turun sebanyak 51,52 ribu orang," papar Ali Said.
Pengukuran ini menggunakan konsep kebutuhan dasar atau *basic needs approach*, yang memperhitungkan Garis Kemiskinan (GK) sebesar Rp570.870 per kapita per bulan.
Komposisi GK tersebut terdiri dari GK makanan sebesar Rp432.788 dan GK bukan makanan Rp138.082. Jika dikonversi, Garis Kemiskinan Rumah Tangga mencapai Rp2.557.498 per rumah tangga miskin per bulan, dengan rata-rata 4,48 anggota keluarga miskin.
Baca Juga: Gubernur Luthfi Desak Pemulihan Cepat Pascabencana Pemalang: Pastikan Korban Terlayani
Lebih lanjut, Ali Said juga menyoroti penurunan pada indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan, dua indikator penting yang menunjukkan seberapa jauh dan seberapa parah tingkat kemiskinan.
Indeks kedalaman kemiskinan kota dan desa tercatat sebesar 1,507 pada September 2025, menurun dari 1,557 pada Maret 2025. Sementara itu, indeks keparahan kemiskinan juga menurun dari 0,354 menjadi 0,338 pada periode yang sama.
"Pada September 2025, gini ratio (ketimpangan pengeluaran) menurun dibanding kondisi Maret 2025, yakni dari 0,359 menjadi 0,350 atau turun 0,009 poin," tambah Ali Said.
Klaim BPS ini menjadi angin segar bagi upaya pemerintah daerah dalam menciptakan kesejahteraan yang lebih merata.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
-
Gempa M 4,2 Guncang Pacitan Terasa hingga Yogyakarta: 7 Orang Luka dan Sejumlah Bangunan Rusak
-
Hakim PN Depok Tertangkap Tangan Terima Ratusan Juta dari Swasta, KPK Lakukan OTT!
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
Terkini
-
7 Fakta Kebakaran Dua Rumah di Pati, Ternyata Pelakunya Anak Korban
-
Kunci Jawaban Pendidikan Pancasila Kelas 9 Halaman 121: Peran Budaya Lokal
-
7 Informasi Penting Festival Pasar Rakyat Dugderan 2026 Semarang, Wajib Dicatat Warga
-
7 Fakta Mercedes Tiger, Motuba yang Dibawa Mantan Menlu Marty Ke Istana
-
4 Mobil Bekas Paling Ideal Harga Rp40 Jutaan, Dari Legenda Sporty hingga Mewah Eropa!