Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 06 Maret 2026 | 09:54 WIB
Ilustrasi memperingati Nuzulul Qur'an 2026:[Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Peringatan Nuzulul Qur'an 2026 dijadwalkan pada malam 17 Ramadan 1447 H, yaitu Jumat hingga Sabtu, 6-7 Maret 2026.
  • Buya Yahya menekankan bahwa Nuzulul Qur'an adalah momentum merenungkan pengamalan Al-Qur'an, bukan sekadar mengenang sejarah peristiwa tersebut.
  • Inti peringatan adalah menghadirkan ajaran Al-Qur'an dalam perilaku dan tindakan sehari-hari sebagai sarana perbaikan diri.

SuaraJawaTengah.id - Malam Nuzulul Qur'an 2026 diperingati pada malam 17 Ramadan 1447 H, yang jatuh pada Jumat malam, 6 Maret 2026 hingga Sabtu, 7 Maret 2026.

Nuzulul Qur'an adalah momen yang sangat penting bagi umat Islam, bukan hanya sebagai peringatan turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga sebagai kesempatan untuk merenungkan dan memperbaiki diri.

Peringatan ini menjadi waktu yang tepat untuk kita merenung apakah Al-Qur'an sudah hadir dalam perilaku dan kehidupan kita sehari-hari. Seperti yang disampaikan oleh Buya Yahya, berikut adalah 5 nasihat penting dari beliau tentang bagaimana kita seharusnya menyikapi malam Nuzulul Qur'an.

1. Nuzulul Qur'an Bukan Hanya Mengenang Sejarah

Banyak di antara kita yang mungkin merayakan Nuzulul Qur'an hanya sebagai sebuah peristiwa sejarah yang terjadi pada satu malam saja. Padahal, Buya Yahya mengingatkan kita bahwa turunnya Al-Qur'an adalah sebuah perjalanan panjang yang berlangsung selama 23 tahun.

Nuzulul Qur'an bukan hanya tentang mengenang malam ketika wahyu pertama kali turun, tetapi lebih dari itu, kita harus merenungkan bagaimana wahyu ini dapat hadir dalam diri kita.

Malam ini adalah kesempatan untuk memperbarui komitmen kita dalam mengamalkan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar mengenang peristiwa tersebut

Dalam nasihat Buya Yahya, Nuzulul Qur'an mengingatkan kita untuk merenungkan bagaimana wahyu Allah yang mulia ini turun dalam hidup kita. Bukankah itu jauh lebih penting daripada sekadar mengenang turunnya wahyu pada satu malam?

2. Menghadirkan Al-Qur'an dalam Diri Kita

Baca Juga: 11 Tahun Jateng Bersholawat Digulirkan, Pj Gubernur Jateng: Semoga Musibah Segera Berlalu

Buya Yahya menegaskan bahwa Al-Qur'an harus lebih dari sekadar kitab yang kita baca, tetapi Al-Qur'an harus menjadi bagian dari perilaku kita sehari-hari. Malam Nuzulul Qur'an adalah saat yang tepat untuk bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita menghadirkan Al-Qur'an dalam kehidupan kita? Sudahkah kita mengamalkan ajarannya dalam setiap tindakan?

Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca dan dipahami, tetapi untuk diterapkan dalam kehidupan kita. Kita sering mendengar tentang pentingnya membaca Al-Qur'an, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita menghidupkan isi Al-Qur'an dalam setiap aspek kehidupan kita, baik itu dalam keluarga, pekerjaan, maupun interaksi sosial.

Seperti yang diajarkan Buya Yahya, jika Al-Qur'an hadir dalam diri kita, maka perilaku kita akan mencerminkan ajaran-ajarannya. Itulah sebabnya malam Nuzulul Qur'an seharusnya menjadi waktu refleksi bagi kita untuk menilai sejauh mana kita sudah mengamalkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam hidup kita.

3. Nuzulul Qur'an: Bukan Sekedar Perayaan, Tapi Peringatan untuk Mengamalkan Al-Qur'an

Peringatan Nuzulul Qur'an lebih dari sekadar perayaan. Buya Yahya mengingatkan bahwa ini adalah momen yang tepat untuk merenung. Jangan hanya berhenti pada cerita turunnya wahyu, tetapi kita perlu menghadirkan Al-Qur'an dalam perilaku dan tindakan kita. Nuzulul Qur'an adalah waktu yang tepat untuk memperbarui tekad kita untuk mengamalkan ajaran-ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.

Jika kita hanya mengingat peristiwa turunnya wahyu tanpa berusaha mengamalkan isinya, maka kita hanya akan terjebak dalam seremonial belaka. Sebaliknya, mari kita jadikan peringatan Nuzulul Qur'an ini sebagai waktu untuk memperbaiki diri, agar hidup kita lebih sesuai dengan ajaran Al-Qur'an.

Load More