Budi Arista Romadhoni
Minggu, 15 Maret 2026 | 20:01 WIB
Ilustrasi generasi Z yang melakukan buka puasa bersama. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Buka bersama kini menjadi ajang pembuktian sosial dan pamer pencapaian hidup, khususnya dengan teman lama.
  • Generasi Z menghadapi tekanan sosial dari dunia digital yang memicu kecemasan akan status dan masa depan.
  • Riset menunjukkan Gen Z memiliki tiga tipologi berbeda; pemahaman ini penting untuk strategi komunikasi yang tepat.

SuaraJawaTengah.id - Gen Z menjalani Ramadan dan menyambut Lebaran dalam harap-harap cemas. Kesempatan buka bersama dan silaturahmi setahun sekali, bisa berubah menjadi panggung penghakiman.

Dulu, ajakan buka puasa bersama terasa menyenangkan buat Naila Nihayah. Pertemuan dengan teman lama biasanya menjadi kesempatan untuk bernostalgia, mengenang kembali cerita-cerita konyol semasa sekolah atau kuliah.

Namun seiring waktu, rasa itu perlahan berubah. Alih-alih menjadi ruang sambung silaturahmi, buka puasa kini lebih menjadi ajang pamer pencapaian hidup. “Sekarang bukber rasanya seperti flexing,” kata Naila.

Fenomena itu terutama terjadi pada lingkaran teman-teman lama. Suasana buka bersama yang seharusnya hangat, berubah menjadi percakapan yang sarat pembuktian sosial.

Perempuan kelahiran tahun 1999 itu membagi sirkel event buka puasanya menjadi dua jenis: Bukber bersama alumni sekolah atau kuliah dan buka bersama rekan kerja.

Jika bersama teman kerja, obrolan biasanya lebih ringan karena mereka berinteraksi dalam lingkungan yang sama. Tapi begitu kumpul dengan mantan bestie sekolah, basa-basi sering menuju ke arah yang tidak nyaman. “Bukber alumni cenderung jadi adu validasi.”

Yang dibahas bukan lagi soal kenangan masa lalu, tetapi tentang pencapaian saat ini. Cerita soal gaji, pekerjaan, hingga kehidupan rumah tangga.

“Ada yang cerita sudah kerja di sini, gajinya segini. Cerita soal sudah menikah, punya anak,” katanya.

Bagi sebagian orang mungkin itu sekadar berbagi cerita. Namun bagi Naila, percakapan seperti itu sering terasa melelahkan.

Baca Juga: FWD Day Dorong Generasi Muda Jadi Lebih Kompetitif Lewat Literasi Keuangan di Undip

Capek Adu Gengsi

Fashion Generasi Z memiliki ciri khas tersendiri [Ilustrasi}

Dia merasa momen yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi, justru berubah menjadi ajang hisab sosial. Semua orang ditakar. Ditimbang kelayakan hidupnya.

“Capek banget dengernya. Kita kumpul kan cuma mau seru-seruan. Bukan denger soal rumah tangga yang harmonis atau masalah keluarga.”

Situasi itu membuat banyak orang tidak nyaman. Terutama bagi mereka yang merasa capaian hidupnya belum sampai di titik yang setara dengan teman-teman lainnya.

Menurut Naila, setiap orang memiliki fase hidup yang berbeda. Seperti tangga, setiap orang menginjakan kaki di anak tangganya masing-masing.

“Misalnya saya sudah di tangga empat, tapi ada teman yang masih di tangga satu atau dua. Seharusnya hal yang kayak gitu nggak usah dibahas. Bikin nggak nyaman.”

Ketika percakapan hanya fokus pada keberhasilan tertentu, orang yang berada di posisi berbeda sering kali merasa tertinggal, bahkan terasing.

Apalagi jika topik yang dibicarakan mulai nyerempet bidang pekerjaan yang tidak dipahami teman lainnya. “Ada teman yang cerita detail tentang pekerjaannya. Tapi yang lain tidak paham karena bidangnya kerjanya beda.”

Situasi seperti itu membuatnya kadang mempertanyakan kembali tujuan buka bersama. “Sebenarnya ikut bukber itu salah enggak sih?” ujarnya sambil tertawa kecil. “Sebenarnya capek juga.”

Capek menjelaskan perjalanan hidup kepada orang lain. Capek mendengar cerita keberhasilan maupun keluhan dari banyak orang dalam satu waktu.

Rindu Bukber Nostalgia

Ilustrasi buka bersama (Freepik/freepik)

Padahal bagi Naila, harapan dari pertemuan buka bersama sebenarnya sederhana. Merindukan percakapan ringan yang mengingatkan pada masa lalu.

Misalnya mengingat kembali kebiasaan teman semasa kuliah atau sekolah. Siapa yang sering terlambat masuk kelas, siapa yang suka menyontek, atau cerita-cerita kecil yang dulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Yang saya harapkan sebenarnya kita bisa flashback. Kalau bicara masa lalu itu malah jadi hiburan sendiri.”

Namun dalam banyak pertemuan, momen seperti itu jarang muncul. Alih-alih bernostalgia, percakapan justru dipenuhi cerita tentang pekerjaan, karier, dan kehidupan keluarga.

Karena itu, Naila kini cenderung lebih selektif menghadiri acara reuni. Apalagi dia sekarang merantau dan tidak lagi sering berkomunikasi dengan teman-teman lamanya.

Pengalaman Naila mencerminkan perubahan sosial yang lebih luas di kalangan generasi muda. Terutama mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 atau dikenal sebagai Generasi Z.

Pendiri sekaligus peneliti Alvara Research Center, Hasanuddin Ali, mengatakan generasi muda Indonesia memiliki karakter yang jauh lebih beragam dari yang sering dibayangkan.

Tipologi Anak Muda

Berdasarkan riset Alvara, setidaknya terdapat tiga tipologi anak muda di Indonesia. Tipologi pertama adalah mereka yang sangat aktif secara sosial, yang disebut sebagai “Social Butterfly”.

Kelompok ini biasanya memiliki jaringan pertemanan luas dan sangat aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Jumlah mereka sekitar 29,7 persen dari totak populasi Gen Z.

Tipologi kedua adalah anak muda yang sangat terhubung dengan dunia digital. Hasanuddin menyebut kelompok ini sebagai “Si Digital Banget”.

Mereka sangat akrab dengan teknologi dan media sosial. Bahkan menjadikannya sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Sekitar 42,5 persen Gen Z termasuk dalam kategori ini.

Sementara tipologi ketiga adalah kelompok yang cenderung santai dan tidak terlalu terlibat dalam hiruk pikuk sosial maupun digital. “Yang kami sebut sebagai Si Santui Abis atau The Chillaxer,” kata Hasanuddin Ali usai peluncuran buku “Tipologi Anak Muda Indonesia”.

Menurut Hasanuddin, memahami keragaman tipologi ini penting bagi banyak pihak, mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, hingga pembuat kebijakan.

Dengan memahami karakter yang berbeda-beda, pendekatan terhadap generasi muda bisa menjadi lebih tepat. “Strategi komunikasi atau kebijakan harus disesuaikan dengan tipologi anak muda tertentu.”

Tekanan Media Sosial

Ilustrasi anak muda yang sibuk dengan komentar di platform media sosial kebanggaan masing-masing (Freepik/freepik)

Selain keragaman karakter, Generasi Milenial (kelahiran tahun 1981-1996) dan Generasi Z juga menghadapi tantangan baru yang tidak dialami generasi sebelumnya.

Salah satunya adalah paparan dunia digital. Media sosial menjadi ruang utama tempat anak muda melihat berbagai gambaran kehidupan orang lain.

Ruang digital—pada satu sisi membuka ruang baru belajar untuk berkembang. Tapi pada sisi lain, juga membawa tekanan sosial yang tidak kecil.

Menurut piramida kebutuhan Maslow, setelah kebutuhan fisiologis dan rasa aman terpenuhi, manusia akan bergerak ke kebutuhan cinta atau belonging, esteem, dan aktualisasi diri.

Gen Z dan Milenial—khususnya yang tinggal di kota tampaknya terjebak pada kebutuhan pengakuan, status sosial, dan prestise. Hal ini sering kali berujung pada tekanan eksternal untuk tampil sempurna.

Ketidak seimbangan antara kebutuhan aktualisasi diri dengan pengakuan membuat banyak dari mereka frustrasi. Meningkatkan kecemasan terkait masa depan. “Anak-anak Gen Z banyak yang cemas tentang masa depan mereka,” kata Hasanuddin.

Kecemasan itu berkaitan dengan berbagai hal, mulai dari peluang kerja hingga stabilitas ekonomi. Mereka dihantui pertanyaan apakah akan mendapatkan pekerjaan yang layak? Memiliki karier yang stabil? Atau punya penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup?

Fenomena pemutusan hubungan kerja di berbagai sektor usaha juga ikut memperkuat rasa cemas tersebut. “Masalah tenaga kerja menjadi salah satu sumber kecemasan anak muda.”

Gen Z Butuh Kepastian

Hasanuddin menilai peran negara dan institusi pendidikan sangat penting untuk menciptakan kepastian bagi generasi muda. Pendidikan yang layak serta kesempatan kerja yang memadai, menjadi faktor penting yang dapat mengurangi kecemasan tersebut.

Di tengah tekanan dunia digital, Generasi Milenial dan Gen Z mencari cara baru menjalani hubungan sosial mereka. Termasuk dalam momen tradisional seperti buka puasa bersama.

Bagi sebagian orang, buka bersama masih menjadi ruang hangat untuk menyambung silaturahmi. Namun bagi sebagian lainnya, seperti yang dirasakan Naila, pertemuan itu kadang terjebak menjadi panggung pamer sosial.

Di sela cerita karier, gaji, dan rumah tangga, Naila merindukan sesuatu yang jauh lebih sederhana. Percakapan santai tentang masa lalu—yang mengingatkan bahwa persahabatan pernah tumbuh tanpa perlu membuktikan apa pun.

Kontributor : Angga Haksoro Ardi

Load More