- Sepeda motor milik Chiko Relisviano Ramadhan terbakar di SPBU Sriwijaya, Semarang, pada Jumat (3/4/2026) akibat masalah kelistrikan.
- Petugas SPBU sempat menunda penggunaan APAR, namun akhirnya pemilik motor dan pihak pengelola sepakat saling memaafkan.
- Pertamina menutup sementara operasional SPBU untuk melakukan pembinaan terkait respons cepat dan penanganan darurat kebakaran bagi petugas.
SuaraJawaTengah.id - Peristiwa sepeda motor Yamaha Fiz R milik Chiko Relisviano Ramadhan yang terbakar hangus di dekat SPBU Sriwijaya, Kota Semarang, Jumat (3/4/2026), menjadi pelajaran soal empati. Kobaran api sekecil apapun tidak boleh diabaikan atau menunggu prosedur formal.
Chiko menyatakan sudah memaafkan petugas SPBU yang menyulitkan proses pemadaman kebakaran. Dia juga sudah mengikhlaskan sepeda motornya yang sekarang menjadi kerangka akibat kobaran api kurang cepat dipadamkan.
Laki-laki yang tinggal di Semarang Barat itu juga meminta agar petugas SPBU Sriwijaya tidak ada yang dipecat. Mengingat mereka merupakan tulang punggung keluarga dan memiliki anak-anak yang menggantungkan hidup pada pekerjaan tersebut.
"Kemarin kami sudah dami dan saling memaafkan. Harapan saya jangan ada pegawai yang dipecat. Karena mereka tulang punggung sekaligus ayah bagi anak-anaknya," ucap Chiko saat dihubungi Suara.com, Senin (6/4/2026).
Meski berusaha melupakan, tapi Chiko masih mengingat jelas detik-detik motornya disambar kobaran api. Insiden naas itu terjadi selepas dia mengisi bensin, lalu motornya mengalami masalah kelistrikan hingga memicu munculnya percikan api.
Saat api masih kecil, Chiko berusaha keras memadamkan kobaran api. Dia juga sempat meminta bantuan ke petugas SPBU untuk mengeluarkab APAR, namun respons yang diberikan justru tidak menyenangkan.
"Saya minta tolong agar APAR dikeluarkan, tapi petugas bilang tidak bisa karena harganya mahal dan harus menunggu manajer," keluh Chiko saat mengingat kejadian tersebut.
Chiko pun pasrah. Upaya memadamkan api dengan air seadanya dan kain basah tidak membuahkan hasil karena kobaran api sudah terlanjur membesar. Motor kesayangannya pun akhirnya dilalap si jago merah.
Saat motornya nyaris tinggal kerangka, petugas SPBU akhirnya membantu memadamkan api menggunakan APAR. Sayangnya, upaya tersebut menjadi sia-sia karena motornya sudah tidak lagi bisa digunakan.
Baca Juga: Pertamina Tindak Tegas Kasus BBM Tercampur Air: Dua Awak Mobil Tangki Dipecat, SPBU Trucuk Dibekukan
"Saya dan warga sempat protes, APAR gunanya apa? Saya kecewa, saat api masih kecil, seandainya langsung dipadamkan pakai APAR, mungkin tidak akan merembet dan membesar apinya," ungkap Chiko.
Tidak Perlu Izin Pakai APAR
Kepala Damkar Kota Semarang, Sih Rianung, menyatakan keprihatinannya atas insiden kebakaran tersebut. Kurangnya kepekaan petugas sebagai catatan penting dari peristiwa ini, dan harus menjadi evaluasi penanganan darurat di semua SPBU Kota Semarang.
"Kami sudah melakukan inspeksi. Laporan dari teman-teman kecepatan penanganan kurang. Kita perlu mengawal peningkatan sumber daya manusia agar saat situasi darurat bisa segera melakukan pencegahan," ungkap Rianung.
Menurut Rianung, logika menunda penggunaan APAR karena dianggap mahal justru berpotensi menimbulkan kerugian lebih besar. Petugas SPBU seharusnya memahami proteksi terhadap bahaya apabila ada kobaran api di dekat area SPBU.
"Yang mahal itu justru kerugiannya. Isi ulang APAR paling murah cuman Rp60.000 per kilo. Harus ada kepekaan. Ada barangnya (APAR) harus dipakai. Api kalau didiamkan makin besar dan sulit dipadamkan," ungkap Rianung.
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Mendag Dorong Pelaku Industri Manfaatkan Trade Expo Indonesia
-
Awas! 39 Anak di Jateng Terpapar Radikalisme Lewat Game Online dan Medsos
-
Mulai Kuliner UMKM hingga Konser KLa Project, Ini Rangkaian Seru HUT ke-81 Jateng
-
BRI Raih Rekor MURI: Selenggarakan Pameran Kredit Kendaraan Serentak Terbanyak
-
Dari Telur Asin hingga Beras Biosalin, Kisah Ibu-ibu Mangunharjo Merajut Kemandirian Lewat Mami Sera