- Konflik Amerika-Iran memicu gangguan rantai pasok global yang mengakibatkan lonjakan harga bahan baku industri di Kota Semarang.
- Pelaku UMKM dan pedagang di Semarang mengalami kenaikan biaya produksi signifikan, terutama pada komoditas kedelai serta plastik.
- Dampak ekonomi tersebut memaksa pelaku usaha memperkecil ukuran produk, menaikkan harga jual, hingga membatasi pembelian barang bagi pelanggan.
SuaraJawaTengah.id - Konflik Amerika-Israel dengan Iran ibarat jauh dari panggang api bagi Kota Semarang. Bahkan tak ada sirene, tak pula dentuman rudal yang terdengar dari wilayah ibu kota Jawa Tengah (Jateng) yang memecah ketenangan seperti yang kerap tersaji dari kawasan Timur Tengah.
Namun, jarak geografis itu tak serta-merta membuat dampaknya ikut menjauh. Ketegangan tiga negara tersebut malah menggoyang rantai ekonomi dunia. Dari jalur distribusi hingga harga komoditas global, efeknya merembes perlahan ke level paling bawah.
Konflik yang jauh dari warung maupun ruang produksi UMKM itu justru terasa lewat dampak tak langsung: kenaikan harga bahan baku. Minyak, plastik, dan berbagai kebutuhan lainnya tiba-tiba meroket tajam.
Akibatnya, pedagang atau pelaku UMKM di Kota Semarang terpaksa harus berakrobat untuk bertahan di tengah biaya produksi yang terus meningkat.
Pengrajin Tahu Terhimpit
Salah satu pelaku UMKM yang terdampak gejolak geopolitik ialah pengrajin tahu. Apalagi bahan utama pembuatan tahu masih sangat bergantung pada kedelai impor.
Pengrajin tahu legendaris di Kecamatan Candisari, Joko Wiyatno mengaku harga kedelai terus merangkak naik tanpa kendali dalam tiga bulan terakhir. Kenaikannya pun terbilang tajam, hampir menyentuh 60 persen dibanding harga normal.
"Harga normal (kedelai) itu Rp7.000-8.000 per kilonya. Sekarang naik jadi Rp11.000, kenaikan harga ini udah tiga bulan terskhir. Saya tidak bisa menaikkan harga (jual) tahu sendiri. Harus serempak," ucap Joko saat ditemui Suara.com, Senin (13/4/2026).
Joko menduga kenaikan harga kedelai tersebut imbas dari gejolak geopolitik global. Kondisi itu membuatnya terpaksa berakrobat, salah satunya dengan mengurangi takaran dan memperkecil ukuran tahu agar usahanya tidak ditinggali pelanggan.
Baca Juga: BRI Gandeng Yakult Lady: Digitalisasi Transaksi UMKM dan Dukungan Kesejahteraan Melalui QRIS
Masalah harga kedelai bukan satu-satunya yang membuat Joko berakrobat. Sebagian besar pengrajin tahu di Semarang juga dibikin pusing tujuh keliling oleh kenaikan harga bahan penunjang lain seperti minyak goreng, kayu bakar, hingga plastik kemasan. Dampaknya, biaya produksi semakin membengkak.
"Semua ikut naik, bukan cuma kedelai. Harga minyak goreng dari Rp16.000 sekarang naik jadi Rp20.500. Kayu bakar dan plastik juga naik," keluhnya.
Joko melanjutkan bahwa kenaikan harga plastik kemasan malah tergolong ekstream. Plastik bening disebut naik sampai 100 persen, sedangkan plastik kantong sekitar 25-30 persen.
Lonjakan biaya produksi itu memaksa Joko mengurangi jumlah produksi harian, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan omzet.
"Sebelum harga bahan baku naik, produksi tahu di tempat saya per harinya bisa mencapai satu ton. Sekarang hanya 600-700 kuintal. Setiap ada gejolak, pasti (harga kedelai) naik. Mau pakai kedelai lokal belum bisa diandalkan, kualitasnya lebih basah dan mudah berjamur," paparnya.
Penjual Jus Terpaksa Menaikan Harga
Jika Joko berakrobat dengan memperkecil ukuran tahu, maka penjual jus dan minuman segar di kawasan Pleburan, Semarang, memilih langkah berbeda: menaikkan harga jual. Pilihan tesebut menjadi jalan terakhir setelah harga cup dan plastik kemasan melonjak tajam.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah
Pilihan
-
KPK Kembali Gelar OTT: Amankan Sejumlah Pihak di BNPB
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
Terkini
-
Tugu Muda Kembali Jadi Saksi, Semarang Hidupkan Pertempuran Lima Hari 1945
-
KDM di Undip: Lebih Baik jadi Akang tapi Menyenangkan, daripada jadi Bapak Kerjanya Naikin Pajak
-
Hadapi Musim Hujan, Semarang Siagakan 119 Pompa, Pengerukan 5 Lokasi Dikebut
-
BRI Perkuat Inklusi Keuangan, BRILink Agen Jangkau 60.000 Desa di Indonesia
-
Minta Maaf ke Warga Cilacap, Bupati Nonaktif Syamsul Auliya Rachman Bantah Terlibat Pengumpulan THR