- Ana, seorang ibu rumah tangga, bekerja sebagai konten kreator Facebook untuk menambah penghasilan keluarga di rumahnya sendiri.
- Pekerjaan tersebut menimbulkan beban ganda karena Ana harus menyeimbangkan tugas domestik dan profesional secara bersamaan setiap hari.
- Kondisi ini memicu konflik peran serta tekanan mental akibat pembagian tugas rumah tangga yang tidak adil bagi perempuan.
“Yang susah diputus—tidak bisa diganggu kalau kita sedang mikir. Alur kontennya mau kayak gimana. Soalnya konten saya storytelling. Jadi harus selesai dulu karena kalau diputus idenya bisa hilang.”
Sebelum memutuskan menjadi ibu rumah tangga, Ana punya pengalaman bekerja kantoran. Jadi dia bisa membandingkan mana lebih berat kerja penuh waktu di kantor atau kerja dari rumah.
Menurut dia, kerja di kantor lebih ringan karena sudah jelas waktu dan tugasnya. Risikonya paling banter kena omel atasan jika tugas meleset dari target.
“Buat ibu rumah tangga mungkin enak di kantor. Sudah jelas berangkat ke kantor, punya teman-teman dan nggak diganggu pekerjaan rumah—anak-anak. Enaknya di rumah waktunya lebih fleksibel.”
Konflik Gender
Perempuan yang bekerja dari rumah juga rentan risiko menjadi korban ketidakadilan gender. Double burden adalah istilah yang dipakai untuk menjelaskan beban kerja ganda perempuan—ibu rumah tangga sekaligus pencari nafkah keluarga.
Double burden (beban ganda) adalah ketidakadilan gender dimana perempuan menanggung beban kerja lebih banyak daripada laki-laki. Umumnya berupa tanggung jawab pekerjaan domestik (rumah tangga) sekaligus pekerjaan publik (mencari nafkah).
Situasi ini sering disebut second shift yang memicu kelelahan fisik, stres, dan hambatan karir akibat ekspektasi sosial yang timpang.
Laporan UNDP tahun 2013 menyebutkan beban ganda dipikulkan kepada perempuan yang dianggap punya tanggung jawab lebih besar atas pengasuhan anak.
Baca Juga: 5 Ide Bisnis Ibu Rumah Tangga yang Punya Bayi: Cari Cuan Sambil Momong
Distribusi kerja yang tidak adil sering dibenarkan oleh berbagai peran gender stereotip dan wacana “naturalis”. Mereka menganggap semua perempuan memiliki kecenderungan bawaan untuk melakukan pekerjaan pengasuhan.
Argumen bahwa semua perempuan menikmati pekerjaan domestik—bahkan secara alami cenderung melakukannya— semakin menormalisasi kesenjangan antara pembagian kerja laki-laki dan perempuan.
Kurangnya perlindungan sosial, memperkuat pembagian kerja pengasuhan yang tidak merata ini. Memikul tanggung jawab utama melakukan pekerjaan pengasuhan di rumah, merupakan hambatan struktural yang mencegah perempuan mengakses bentuk pekerjaan lain.
“Terutama kita orang Indonesia kan budaya pekerjaan rumah tangga dibebankan kepada istri. Kalau saya agak keberatan—menjalankan kerja formal sekaligus domestik,” kata Ana.
Rentan Tekanan Mental
Jurnal Ilmiah Psikologi pernah memuat hasil penelitan yang menunjukkan korelasi signifikan antara konflik beban ganda (double burden) dengan stres karyawati saat pemberlakuan work form home selama pandemi Covid 19.
Berita Terkait
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Kursumawati Bawa Semangat Inklusi dan Literasi Keuangan ke Serbalawan Bersama AgenBRILink
-
Kasus Dugaan Kekerasan Seksual di Undip Viral, Korban Mengaku Trauma hingga Tinggalkan Kuliah
-
BRI Dampingi Rosyidah Wujudkan Mimpi Membangun Usaha Olahan Laut di Pesisir Indramayu
-
Tragis! Dua Bocah yang Hilang di Irigasi Singomerto Ditemukan Tewas, Terseret hingga 3,5 Km
-
Bupati Pekalongan Non-Aktif Fadia Arafiq Disidang di Pengadilan Tipikor Semarang Pekan Depan