Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 18 April 2026 | 14:44 WIB
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES) program studi Bimbingan dan Konseling (BK) saat menggelar kegiatan psychoeducation. Mereka menyoroti pelecehan seksual di kampus.
Baca 10 detik
  • Mahasiswa Pascasarjana UNNES dan PMII Salatiga mengadakan diskusi psychoeducation di Nilu Coffee pada Jumat, 17 April 2026.
  • Kegiatan ini bertujuan membekali mahasiswa dan aktivis dengan pengetahuan kritis untuk mencegah maraknya kekerasan seksual di kampus.
  • Diskusi menekankan pentingnya peran aktivis dalam memberikan pendampingan empatik serta menciptakan ekosistem kampus yang aman bagi korban.

SuaraJawaTengah.id - Bayang-bayang kekerasan seksual yang kian mengkhawatirkan di lingkungan perguruan tinggi memantik respons cepat dari kalangan akademisi muda.

Menganggap isu ini sebagai alarm darurat, mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES) berkolaborasi dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Salatiga untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan kritis.

Sebuah diskusi mendalam bertajuk psychoeducation digelar di Nilu Coffee, Salatiga, pada Jumat (17/4/2026).

Acara yang digagas oleh Henrik, mahasiswa S2 program studi Bimbingan dan Konseling (BK) UNNES, ini menargetkan mahasiswa dan para aktivis organisasi ekstra kampus sebagai garda terdepan perubahan.

Inisiatif ini lahir dari keprihatinan atas maraknya kasus kekerasan seksual yang seringkali tidak terungkap atau tidak ditangani dengan serius di lingkungan kampus.

Henrik, yang juga aktif di PMII Rayon Matori Abdul Djalil, menegaskan bahwa persoalan ini sudah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

“Kekerasan seksual di lingkungan kampus bukan lagi isu yang bisa dianggap sepele, tetapi sudah menjadi persoalan nyata yang harus direspons secara serius oleh seluruh elemen mahasiswa,” ujar Henrik di hadapan para peserta.

Menurutnya, langkah preventif jauh lebih penting daripada sekadar menunggu kasus meledak. Edukasi menjadi senjata utama untuk membangun benteng pertahanan pertama di benak setiap mahasiswa.

ilustrasi kekerasan seksual (freepik)

Ia menyoroti pentingnya menciptakan kesadaran kolektif agar predator seksual tidak memiliki ruang gerak di lingkungan akademik.

Baca Juga: Miris! Briptu BTS Pengintip Polwan Mandi Masih Aktif Bertugas, Cuma Dipantau Propam

“Pencegahan itu tidak bisa menunggu kasus terjadi. Edukasi seperti psychoeducation ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran kritis mahasiswa,” tambahnya.

Selain fokus pada pencegahan, diskusi interaktif tersebut juga menyoroti aspek krusial lainnya, yakni pendampingan korban. Henrik menekankan bahwa korban seringkali mengalami trauma berlapis, mulai dari kejadian itu sendiri hingga stigma negatif dari lingkungan sekitar. Di sinilah peran aktivis menjadi sangat vital.

“Korban kekerasan seksual membutuhkan ruang yang aman dan dukungan yang nyata. Aktivis organisasi memiliki peran penting untuk hadir sebagai pendamping yang empatik dan tidak menghakimi,” tegasnya.

Ilustrasi pelecehan seksual. (pixabay)

Pada akhirnya, kegiatan ini bukan sekadar menjadi forum diskusi, melainkan sebuah panggilan untuk bertindak. Mahasiswa, dengan idealisme dan energi yang mereka miliki, diharapkan mampu menjadi motor penggerak untuk menciptakan ekosistem kampus yang aman dan berkeadilan bagi semua.

“Mahasiswa, khususnya aktivis, harus berani menjadi agent of change dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan seksual,” pungkas Henrik.

Load More