- Ribuan pencari kerja memadati Job Connect Fest 2026 di Kabupaten Magelang pada Rabu, 22 April 2026.
- Acara tersebut diselenggarakan untuk mengisi 2.103 lowongan kerja di tengah meningkatnya persaingan ketat antar pelamar.
- Krisis ekonomi global dan kenaikan harga bahan produksi memicu ancaman PHK massal pada berbagai sektor industri.
SuaraJawaTengah.id - Berharap peluang kerja lebih terbuka di kota kecil, Danu justru harus bersaing dengan ribuan pencari kerja lain di Magelang. Seberapa jauh krisis global berdampak pada nasib jutaan angkatan kerja.
Aula Kecamatan Mungkid, Rabu (22/4/2026), dipadati ribuan pencari kerja yang bersaing mengisi 2.103 lowongan. Tidak sedikit dari mereka masih berstatus pelajar tingkat atas yang baru resmi lulus Mei mendatang.
Danu salah satu calon pelamar senior yang sudah punya beberapa tahun pengalaman kerja. Setelah lulus sekolah menengah kejuruan tahun 2016, dia langsung bekerja di PT Panarub, Tangerang.
Sejak tahun 1988 PT Panarub bermitra memproduksi sepatu Adidas. Beberapa tahun belakangan perusahaan juga menggarap sepatu Specs.
“Sempat kerja di PT Panarub satu setengah tahun. Tapi di-PHK karena brand sepatunya sudah nggak kerja sama. Kontrak saya habis sampai Oktober. Yang kontraknya nggak sampai Januari 2018 diputus semua. Langsung nggak kerja lagi,” kata Danu.
Dari Panarub, Danu kerja pindah-pindah bahkan pernah menjajal ojek online dan menjaga konter HP. Kerja kasar 12 jam sehari di pabrik pembuatan kaleng PT Cometa Can rela dilakoninya.
“Gonta-ganti kerjaan. Nyari kerja sekarang susah. Dari dulu juga udah susah. Pabrik banyak, tapi lapangan pekerjaan lebih susah.”
Terakhir Danu jadi buruh pabrik PT HSK, Rembang. Lagi-lagi di perusahaan outsole sepatu itu dia harus menelan pil pahit di-PHK.
Merantau Cari Kerja
Baca Juga: Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
Bagi Danu, perpindahan dari Tangerang ke Magelang pertengahan Ramadan lalu bukan sekadar pindah tempat tinggal. Tapi upaya terakhir mencoba peruntungan setelah beberapa kali dipecat sepihak.
Menurut Danu, pabrik-pabrik di Tangerang ketat membatasi usia maksimal calon pekerja dibawah 25 tahun. Padahal tahun ini usia Danu menginjak 27 tahun.
Meski masih muda, perusahaan tidak lagi menganggapnya produktif. “Di Tangerang banyak perusahaan cuma saya terpaut umur. Saya sudah lebih 25 tahun, itu yang bikin susah.”
Perusahaan hanya menerima pelamar senior asal sudah punya pengalaman. Padahal pengalaman Danu tidak spesifik pada satu bidang pekerjaan.
“Harapannya bisa keterima kerja di sini. Kalau saya masih muda mah jaga outlet terus aja nggak apa. Sekarang mikirnya nggak gitu lagi. Harus nyari yang kerja tetap,” katanya.
Selama di Magelang Danu makin rajin mengirim lamaran ke beberapa perusahaan lewat email. Sempat dapat panggilan wawancara ke pabrik rokok HS tapi sepertinya gagal.
Perawat Satwa
Semakin terdesak kebutuhan, Danu nekat melamar kerja menjadi perawat satwa di Gembira Loka Zoo, Yogyakarta. Dia pikir jadi pawang satwa di kebun binatang mirip hobinya mengurus kucing di rumah.
“Sampai ditanyakan waktu interview, nanti kalau merawat singa gimana? Nggak apa-apa yang dibutuhkan saja. Sekarang yang penting kerja. Kalau nggak kerja gimana, susah juga.”
Pada Job Connect Fest 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Magelang, Danu mengincar beberapa lowongan. Salah satunya kesempatan kerja yang ditawarkan PT Prima Karya Sarana Sejahtera.
Perusahaan outsourcing, anak usaha Yayasan Kesejahteraan Pekerja Bank Rakyat Indonesia (YKP BRI) dan Dana Pensiun itu memiliki 34 jaringan kerja di seluruh Indonesia.
Mereka bermitra dengan lebih dari 300 perusahaan, termasuk BUMN, swasta nasional, dan multinasional. Posisi kerja yang ditawarkan antara lain tenaga pengamanan, driver, cleaning service, front liner, hingga staf administrasi.
“Sama Argo Manteb. Katanya bergerak di bidang pertanian, tapi nggak masalah. Buat saya bagian apa saja, semua posisi. Bagian mana yang dibutuhkan saja.”
Terbatas Peluang Kerja
Persoalan Danu menjadi fakta lapangan yang sulit dibantah bahwa ketersediaan lapangan kerja menjadi isu krusial di tengah ketidakpastian ekonomi.
Dampak konflik Iran-Amerika dipastikan menekan industri lewat lonjakan harga minyak dunia. Krisis ekonomi di depan mata yang dikhawatirkan menyebabkan pemecatan massal.
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) melaporkan ancaman pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 9 ribu buruh oleh sedikitnya 10 perusahaan.
Potensi pemecatan buruh diprediksi akan menyasar berbagai sektor industri manufaktur dalam jangka waktu 3 bulan ke depan.
Badai efisiensi diperkirakan menyapu sektor industri tekstil, garmen, plastik, otomotif, hingga petrokimia. Faktor utama yang memicu PHK buruh antara lain lonjakan harga BBM industri non-subsidi dan kenaikan harga bahan baku impor.
Konflik global yang menyebabkan turun-naik nilai tukar rupiah juga akan mendesak biaya produksi. Jalan pintas mengurangi biaya produksi biasanya dengan mengurangi jumlah pekerja.
Pengangguran Terbuka
Dilansir dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah, tingkat pengangguran terbuka Kabupaten Magelang tahun 2024 mencapai 3,55 persen. Lebih rendah dari tingkat pengangguran terbuka Jawa Tengah 4,78 persen.
“Kurang lebihnya 17 ribu sampai 18 ribu orang yang pengangguran dari data BPS,” kata Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinnaker) Kabupaten Magelang, Rina S Nasution.
Masih dikutip dari BPS Jateng, tingkat partisipasi angkatan kerja di Kabupaten Magelang pada tahun 2024 sebesar 77,72 persen. “Kami optimistis tingkat pengangguran menurun walaupun anggaran Pemda banyak di-efisiensi.”
Rina S Nasution menambahkan pihaknya berupaya mencari sumber pendanaan pelatihan kerja selain dari anggaran pemerintah. Salah satunya dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Magelang.
“Prinsipnya, kerja itu tidak—harus secara resmi di perkantoran. Kita bisa berikan pelatihan supaya mereka buka usaha sendiri.”
Keterlibatan 10 perusahaan dalam Job Connect Fest 2026 juga dianggap sebagai sinyal positif terbukanya kesempatan kerja di tengah krisis politik dan ekonomi global.
“Sepuluh perusahaan itu masih buka atau membutuhkan tenaga kerja sekitar 2.100. Ini—Job Connect Fest—masih dalam konsep kita yang kecil. Masih banyak perusahaan yang bisa memberikan lowongan kerja kepada masyarakat,” kata Rina S Nasution.
Di antara ribuan pelamar yang memadati Aula Kecamatan Mungkid, Danu hanya satu dari banyak orang yang menunggu satu hal: Panggilan kerja.
Di usia 27 tahun, dia tahu persaingannya bukan hanya soal kemampuan, tapi juga waktu. Berhadapan dengan pelamar yang lebih muda dan baru lulus.
“Kan nyari kerja susah. Walaupun nanti kerjanya nggak seenak itu, tetep bertahan. Namanya butuh duit,” tutup Danu.
Kontributor : Angga Haksoro Ardi
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
Pilihan
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
Terkini
-
Cuaca Semarang Kamis 23 April 2026: Siap-siap Payung! BMKG Prediksi Hujan Ringan Bakal Turun
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Antisipasi Gempa, BRI Blora Gelar Simulasi dan Latih Karyawan Tanggap Darurat
-
Zakat di Era Digital: Transparansi dan Kemudahan Jadi Kunci Gaet Donatur Muda
-
Fakta Baru Kecurangan UTBK di Undip, Polisi Sebut Peserta Diduga Jadi Korban Penipuan