- Pabrik Rokok HS di Muntilan mempekerjakan puluhan karyawan difabel untuk menciptakan lingkungan kerja inklusif yang setara bagi semua orang.
- Para pekerja difabel kini mendapatkan stabilitas ekonomi serta perlakuan terhormat setelah sempat mengalami diskriminasi di dunia kerja luar.
- Manajemen perusahaan menyediakan fasilitas pendukung serta mess gratis guna memastikan 70 karyawan difabel dapat bekerja dengan produktivitas tinggi.
SuaraJawaTengah.id - Jumat (24/4) pagi di Muntilan, Magelang, ribuan tangan cekatan memulai rutinitas melinting dan mengepak di Pabrik Rokok HS. Di tengah riuh rendah suara produksi, terdapat satu sudut yang hening namun penuh energi.
Di sanalah puluhan pekerja difabel berkomunikasi dengan bahasa isyarat, berbagi cerita sembari tetap produktif bekerja.
Bagi mereka, pabrik ini bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan sebuah "rumah" yang menerima mereka apa adanya setelah kenyang menelan pahitnya penolakan dunia luar.
Salah satu wajah sumringah di sudut itu adalah Shinta (34), seorang tunarungu dan tunawicara asal Magelang. Namun, di balik senyumnya saat ini, tersimpan cerita pedih perjuangan menembus ketatnya dunia kerja dengan keterbatasan fisik.
Sebagai tulang punggung keluarga, Shinta pernah berada di titik terendah, terlilit utang karena usaha batik tulisnya tak mencukupi, sementara lamaran kerjanya selalu berujung penolakan.
"Dulu sulit sekali mencari kerja. Berkali-kali melamar, tapi selalu ditolak. Kebanyakan mereka meragukan kemampuan kami hanya karena kami berbeda. Menganggap kami tidak mampu tanpa pernah diberi kesempatan," ungkapnya lirih mengenang masa-masa sulit itu.
Stigma negatif masyarakat seringkali mematahkan semangatnya.
Titik balik kehidupannya terjadi saat ia diterima di Pabrik Rokok HS, perusahaan di bawah naungan Surya Group Holding Company. Di sini, ia tidak hanya mendapatkan pekerjaan, tetapi juga martabatnya kembali.
"Tapi di pabrik rokok HS ini, saya seperti menemukan kehidupan baru. Tidak hanya diterima kerja tanpa syarat dan pengalaman, tapi kami juga dihormati dan dihargai tanpa dibedakan," jelasnya dengan mata berbinar.
Baca Juga: Ngeri! 5 Fakta Remaja Dibakar Paman di Semarang, Pemicunya Cuma Perkara Mandi
Kini, ekonomi keluarganya membaik, utang lunas, dan ia bahkan bisa menabung.
Kenyamanan serupa dirasakan Fian (26), pekerja difabel asal Yogyakarta. Ia mengaku trauma dengan pengalaman kerja sebelumnya di tempat lain yang penuh intimidasi.
"Kami sering dibully, dan setiap ada kesalahan, karyawan disabilitas yang selalu disalahkan," tuturnya.
Di HS, perlakuan diskriminatif itu sirna, digantikan dengan kesetaraan fasilitas, termasuk gaji utuh dan makan siang gratis.
Perwakilan HRD Pabrik Rokok HS, Muhammad Hanafi, menegaskan komitmen perusahaan yang dipegang teguh oleh sang pemilik, Muhammad Suryo, untuk menciptakan lingkungan kerja inklusif.
Menurutnya, 70 karyawan disabilitas yang ada saat ini justru menunjukkan etos kerja luar biasa.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Holding UMi Genap 5 Tahun, BRI Perluas Ekosistem Keuangan untuk Masyarakat
-
Kafilah Maluku Utara Terkesan, Ungkap Sisi Lain Keramahan Warga Jateng di MTQ Nasional 2026
-
Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei
-
Kembalinya MTQ Nasional ke Jateng Setelah 47 Tahun, Pawai Ta'aruf di Semarang Langsung Diserbu Warga
-
Bukan Cuma untuk Umat Islam, MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama