Budi Arista Romadhoni
Selasa, 28 April 2026 | 07:37 WIB
Ilustrasi Hujan di Jawa Tengah. (Unsplash/Lala Azizli)
Baca 10 detik
  • BMKG memprakirakan wilayah Semarang dan beberapa kota besar di Pulau Jawa akan mengalami hujan ringan hingga sedang hari ini.
  • Pertemuan angin atau daerah konvergensi di atas Pulau Jawa menjadi penyebab utama terbentuknya awan hujan di wilayah tersebut.
  • Pemerintah memperingatkan ancaman kemarau ekstrem panjang selama tujuh bulan hingga November 2026 dengan curah hujan sangat rendah.

SuaraJawaTengah.id - Masyarakat di Kota Semarang dan sejumlah wilayah di Jawa Tengah (Jateng) diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi hujan yang masih mungkin terjadi pada hari ini, Selasa.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prakiraan cuaca yang menunjukkan adanya potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang akan mengguyur ibu kota Jawa Tengah tersebut dan sekitarnya.

Kondisi atmosfer di atas Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah, saat ini dipengaruhi oleh adanya daerah konvergensi atau pertemuan angin.

Prakirawan BMKG, Diah Ayu R, dalam keterangan resminya di Jakarta menjelaskan bahwa daerah konvergensi ini memanjang melintasi berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Tengah.

Fenomena ini secara signifikan mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan-awan hujan di sepanjang daerah yang dilewatinya.

Berdasarkan analisis dinamika atmosfer tersebut, BMKG memprakirakan Semarang tidak sendirian. Sejumlah kota besar lain di Pulau Jawa juga diprediksi mengalami kondisi serupa, yakni hujan ringan hingga sedang, termasuk Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya.

Meskipun intensitasnya diprediksi tidak seekstrem beberapa wilayah lain di luar Jawa yang berpotensi hujan lebat disertai petir, masyarakat Semarang tetap diminta mempersiapkan diri saat beraktivitas di luar ruangan.

Namun, di tengah prakiraan hujan yang masih mengguyur di bulan April ini, bayang-bayang ancaman iklim yang lebih serius justru mengintai dalam jangka panjang.

Pemerintah pusat telah membunyikan alarm peringatan dini mengenai potensi musim kemarau ekstrem yang akan segera melanda Indonesia, termasuk dampaknya yang akan dirasakan di Jawa Tengah sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Baca Juga: Cuaca Semarang Jumat Ini 'Adem Ayem', BMKG Peringatkan Hujan Lebat di 5 Wilayah Lain

Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq, sebelumnya telah memberikan peringatan keras bahwa Indonesia akan menghadapi musim kemarau yang durasinya jauh lebih panjang dari biasanya, yakni hingga tujuh bulan.

Kondisi ini diprediksi dimulai sejak April dan baru akan berakhir sekitar November 2026, dengan puncak kekeringan pada Agustus-September.

Yang lebih mengkhawatirkan, kemarau tahun ini diproyeksikan memiliki curah hujan terendah dalam tiga dekade terakhir. Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan ekstra dari pemerintah daerah dan masyarakat di Jawa Tengah dalam manajemen sumber daya air.

"Di tahun 2026 ini sesuai proyeksi dari BMKG, kita akan mengalami masa kemarau yang panjang, mencapai puncak sekitar bulan Agustus-September 2026, baru akan berakhir bulan November 2026. Ada tujuh bulan yang akan kita hadapi (sejak April), dengan tingkat curah hujan akan berada pada kondisi paling rendah selama 30 tahun," ucap Menteri LH Hanif mengingatkan urgensi situasi ini.

Load More