Budi Arista Romadhoni
Selasa, 28 April 2026 | 13:09 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. [Dok. Humas]
Baca 10 detik
  • Gubernur Ahmad Luthfi berdialog dengan 78 serikat buruh di Semarang jelang May Day 2026 untuk serap aspirasi.
  • Luthfi meminta buruh lakukan kegiatan konstruktif saat May Day demi menjaga iklim investasi di Jateng.
  • Realisasi investasi Jateng 2025 tembus Rp110 triliun berkat kondusivitas wilayah dan kemudahan perizinan.

SuaraJawaTengah.id - Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang jatuh pada 1 Mei 2026, tensi hubungan industrial seringkali menghangat.

Menyikapi hal ini, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengambil langkah proaktif dengan mengumpulkan puluhan pimpinan serikat pekerja di Kota Semarang untuk berdialog langsung dan menyerap aspirasi mereka.

Dalam pertemuan yang digelar di Truntum Gama, Kota Semarang, Senin (27/4/2026), Luthfi bertatap muka dengan perwakilan dari 78 serikat pekerja dan serikat buruh se-Jawa Tengah.

Forum ini menjadi wadah bagi para buruh untuk menumpahkan berbagai persoalan riil yang mereka hadapi di lapangan.

Sejumlah isu krusial mencuat, mulai dari masih maraknya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK), ketidakjelasan pembayaran pesangon oleh perusahaan, hingga persoalan kesejahteraan pekerja yang belum optimal.

Merespons berbagai keluhan tersebut, Gubernur Ahmad Luthfi memberikan jawaban satu per satu. Namun, poin utama yang ditekankannya adalah pentingnya menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) serta iklim hubungan industrial yang damai.

Menurut Luthfi, kondusivitas wilayah adalah "mata uang" paling berharga untuk menarik investor masuk ke Jawa Tengah, yang pada akhirnya akan membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan buruh itu sendiri.

Oleh karena itu, mendekati momentum May Day 2026, Luthfi mengajak seluruh elemen buruh untuk merayakannya dengan cara-cara yang positif dan tidak mengganggu ketertiban umum.

"Pada peringatan May Day nanti, mari adakan kegiatan yang konstruktif tanpa mengurangi hakikat May Day itu sendiri. Yaitu dengan cara menjaga hubungan industrial yang kondusif," tegas Luthfi di hadapan para perwakilan buruh.

Baca Juga: Soal WFH ASN, Pemprov Jateng Masih Kaji Penerapannya

Ia mengingatkan bahwa situasi global yang tidak menentu saat ini bisa berdampak hingga ke daerah. Jika stabilitas terganggu, investor akan ragu menanamkan modalnya. "Begitu tidak kondusif, maka investasi di tempat kita akan terganggu," jelasnya.

Luthfi membuktikan bahwa strategi menjaga kondusivitas ini telah membuahkan hasil nyata bagi ekonomi Jawa Tengah. Ia memaparkan data realisasi investasi di Jateng pada tahun 2025 yang mencapai angka fantastis, yakni total Rp110,02 triliun.

Investasi tersebut terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp50,86 triliun, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp37,64 triliun, serta realisasi investasi untuk Usaha Mikro Kecil (UMK) sebesar Rp21,52 triliun. Masuknya arus modal ini berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja.

"Sekitar 340 ribu tenaga kerja kita terserap industri sehingga mampu mereduksi tingkat pengangguran terbuka,” ungkap mantan Kapolda Jateng tersebut. Tingginya investasi ini juga tercermin dari pertumbuhan ekonomi Jateng yang mencapai 5,37% pada tahun 2025.

Selain menjamin keamanan, Pemprov Jateng juga berkomitmen mengawal kemudahan perizinan dan menyiapkan infrastruktur kawasan industri. Di sisi lain, Luthfi menekankan pentingnya peningkatan kualitas SDM buruh agar tidak hanya menjadi objek, tetapi subjek dalam industri.

"Kami ingin pekerja dan buruh bukan sebagai alat produksi melainkan ikut serta dalam mengembangkan perusahaan," pungkasnya. Dalam kesempatan itu, juga disosialisasikan program 3 juta rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang bisa diakses oleh para pekerja.

Load More