- Nuryadin, seorang guru ngaji di Muntilan, sejak tahun 2000 mendedikasikan diri mengajar agama tanpa memungut bayaran dari muridnya.
- Di luar kegiatan mengajar, Nuryadin menjalani pekerjaan serabutan dan bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup serta biaya pendidikan keluarganya.
- Pembangunan ruang belajar baru bagi santri dilakukan melalui bantuan donasi komunitas setelah bertahun-tahun Nuryadin mengajar dengan keterbatasan fasilitas.
Kini ia mengajar di satu musala dan beberapa kelompok kecil di lingkungan sekitar. Di rumahnya, lima anak belajar mengaji secara rutin. Materinya tidak lagi dasar tapi mulai masuk ilmu tafsir. “Sekarang saya ngajar tafsir Yasin.”
Kelima muridnya telah menyelesaikan ilmu fikih dasar dan pelajaran akhlak. Untuk sampai pada tahap itu, dibutuhkan waktu bertahun-tahun.
Satu siklus pembelajaran dasar bisa memakan waktu sekitar satu tahun. Belajar tafsir, bisa lebih lama.
Targetnya sederhana: anak-anak itu bisa membawa ilmu yang mereka pelajari ke lingkungan sekitarnya. “Biar nanti bisa bermanfaat,” ujarnya.
Gubuk untuk Mengaji
Di samping rumahnya, ada gubuk yang nyaris roboh. Bekas dapur lama. Dindingnya yang terbuat dari gedek sudah hilang seluruhnya.
Nuryadin berencana membangun gubuk itu menjadi pondok tempatnya mengajar mengaji. Bukan bangunan permanen, hanya ruang semi terbuka yang cukup layak untuk menampung anak-anak belajar.
Perbaikan itu tidak sepenuhnya ditanggungnya sendiri. Ada bantuan dari komunitas dan warga sekitar.
Lembaga swadaya masyarakat Sapu Jagad Gunung dan Mualaf Center Indonesia Peduli membantu Nuryadin mewujudkan harapannya.
Baca Juga: Peta Jalur Rawan Longsor di Magelang: Waspada Saat Mudik Lebaran 2026!
Dari dana patungan—termasuk donasi Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia, Boyamin Saiman— akan dibangun ruang semi permanen untuk belajar ngaji.
“Ya pertama saya sangat bersukur. Cuma saya tidak bisa membalas apa-apa,” katanya pelan.
Insentif Guru Agama
Nuryadin mengaku tidak tahu sumber angggaran bantuan honor Rp150 ribu yang diterimanya setiap 3 bulan. Apakah jumlah itu cukup untuk menunjang aktivitas mengajar—termasuk ke kampung sebelah—dia menjawab singkat: “Tidak cukup.”
Tapi tidak ada nada mengeluh dalam jawabannya. Tidak juga ia menyebut sistem pendidikan salah dan mengabaikan nasib para guru ngaji di kampung. “Habis mau protes ke siapa,” katanya.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebenarnya sudah mengalokasikan anggaran untuk insentif guru agama non-ASN. Besar anggaran tahun ini naik dari Rp250 miliar menjadi Rp300 miliar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Siswa Madrasah di Pati Patah Jari Usai Di-Bully, Pengakuan Keluarga dan Sekolah Bertentangan
-
BRI Perkuat Bekal Kewirausahaan PMI Taiwan, Siapkan Langkah Membangun Usaha di Tanah Air
-
Pembangunan Stadion Kendal Tornado FC Disiapkan, Jadi Tonggak Kemajuan Sepak Bola Daerah
-
Modus Curi Biskuit Berulang Terbongkar, Sales Makanan Diciduk di Pasar Nusukan
-
Viral! Siswa Sekolah Rakyat Acungkan Celurit di Jalan, Kini Berakhir Apes