- Nuryadin, seorang guru ngaji di Muntilan, sejak tahun 2000 mendedikasikan diri mengajar agama tanpa memungut bayaran dari muridnya.
- Di luar kegiatan mengajar, Nuryadin menjalani pekerjaan serabutan dan bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup serta biaya pendidikan keluarganya.
- Pembangunan ruang belajar baru bagi santri dilakukan melalui bantuan donasi komunitas setelah bertahun-tahun Nuryadin mengajar dengan keterbatasan fasilitas.
SuaraJawaTengah.id - Program pendidikan terus bertambah maju setiap tahun. Dari bantuan operasional sekolah, digitalisasi pembelajaran, hingga berbagai skema insentif tenaga pendidik.
Namun di luar program-program canggih itu, ada satu jenis pengajar yang hampir tidak pernah benar-benar masuk hitungan: guru ngaji di kampung.
Di Dusun Curah, Desa Sukorini, Muntilan, nama itu merujuk pada satu orang: Nuryadin.
“Saya terima—bantuan honor—Rp150 ribu. Tapi itu untuk tiga bulan,” kata Nuryadin.
Guru ngaji kampung berusia 40 tahun itu tertawa kecil setelah mengucapkannya. Seolah angka itu bukan sesuatu yang penting untuk dipersoalkan.
Jika dibagi rata, Nuryadin hanya menerima bantuan honor Rp50 ribu per bulan. Uang itu biasanya dipakai membeli bensin mengajar mengaji dan kelompok sholawatan ibu-ibu di kampungnya.
Nuryadin mengajar lima anak mengaji di rumahnya. Di ruang tamu seukuran 15 meter persegi yang temboknya tidak diplster, ia mengajar tanpa memungut bayaran. “Kalau dari ngaji ya sukarela,” katanya.
Nuryadin menganggap mengajar mengaji sebagai panggilan tugas turun temurun. Kakek beliau, Kiai Dulrohman adalah ulama setempat yang disegani.
Guru pertama Nuryadin adalah pamannya sendiri, Kiai Muhammad Jalaludin. Sanad keilmuanya salah satunya tersambung hingga Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
Baca Juga: Peta Jalur Rawan Longsor di Magelang: Waspada Saat Mudik Lebaran 2026!
Kerja Serabutan
Untuk hidup sehari-hari Nuryadin menggarap sawah dan bekerja serabutan. Pendapat tiap bulan dari bekerja serabutan tidak menentu.
Dalam sebulan kadang Nuryadin hanya mendapat tiga hari kesempatan bekerja serabutan. Upah harian berkisar Rp65 ribu, belum dipotong uang makan dan transport.
Dari menggarap sawah milik orang lain, Nuryadin menerima bagi hasil gabah. Dalam satu musim tanam, ia memperkirakan perlu modal sekitar Rp1 juta.
Hasil panen jika dijual dalam bentuk gabah hanya sekitar Rp700 ribu. “Kalau dihitung-hitung ya nombok,” katanya. Di tengah kondisi itu, aktivitas mengajar ngaji tetap berjalan.
Nuryadin mulai mengajar sejak tahun 2.000. Berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain, mengikuti kebutuhan warga.
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Polisi Amankan Pria Diduga Mabuk dan Mengamuk di Depan Gerbang UNS
-
BRIN Minta Pembatasan Kadar Nikotin dan Tar Diterapkan Bertahap
-
Siswa Madrasah di Pati Patah Jari Usai Di-Bully, Pengakuan Keluarga dan Sekolah Bertentangan
-
BRI Perkuat Bekal Kewirausahaan PMI Taiwan, Siapkan Langkah Membangun Usaha di Tanah Air
-
Pembangunan Stadion Kendal Tornado FC Disiapkan, Jadi Tonggak Kemajuan Sepak Bola Daerah