Budi Arista Romadhoni
Kamis, 23 April 2026 | 07:21 WIB
Ilustrasi sulitnya mencari pekerjaan, meskipun mengikuti job fair. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Ribuan pencari kerja memadati Job Connect Fest 2026 di Kabupaten Magelang pada Rabu, 22 April 2026.
  • Acara tersebut diselenggarakan untuk mengisi 2.103 lowongan kerja di tengah meningkatnya persaingan ketat antar pelamar.
  • Krisis ekonomi global dan kenaikan harga bahan produksi memicu ancaman PHK massal pada berbagai sektor industri.

SuaraJawaTengah.id - Berharap peluang kerja lebih terbuka di kota kecil, Danu justru harus bersaing dengan ribuan pencari kerja lain di Magelang. Seberapa jauh krisis global berdampak pada nasib jutaan angkatan kerja.

Aula Kecamatan Mungkid, Rabu (22/4/2026), dipadati ribuan pencari kerja yang bersaing mengisi 2.103 lowongan. Tidak sedikit dari mereka masih berstatus pelajar tingkat atas yang baru resmi lulus Mei mendatang.

Danu salah satu calon pelamar senior yang sudah punya beberapa tahun pengalaman kerja. Setelah lulus sekolah menengah kejuruan tahun 2016, dia langsung bekerja di PT Panarub, Tangerang.

Sejak tahun 1988 PT Panarub bermitra memproduksi sepatu Adidas. Beberapa tahun belakangan perusahaan juga menggarap sepatu Specs.  

“Sempat kerja di PT Panarub satu setengah tahun. Tapi di-PHK karena brand sepatunya sudah nggak kerja sama. Kontrak saya habis sampai Oktober. Yang kontraknya nggak sampai Januari 2018 diputus semua. Langsung nggak kerja lagi,” kata Danu.

Dari Panarub, Danu kerja pindah-pindah bahkan pernah menjajal ojek online dan menjaga konter HP. Kerja kasar 12 jam sehari di pabrik pembuatan kaleng PT Cometa Can rela dilakoninya.  

“Gonta-ganti kerjaan. Nyari kerja sekarang susah. Dari dulu juga udah susah. Pabrik banyak, tapi lapangan pekerjaan lebih susah.”

Terakhir Danu jadi buruh pabrik PT HSK, Rembang. Lagi-lagi di perusahaan outsole sepatu itu dia harus menelan pil pahit di-PHK.

Merantau Cari Kerja

Baca Juga: Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug

Ribuan pencari kerja berburu lowongan pada Job Connect Fair 2026. (Suara.com/ Angga Haksoro A).

Bagi Danu, perpindahan dari Tangerang ke Magelang pertengahan Ramadan lalu bukan sekadar pindah tempat tinggal. Tapi upaya terakhir mencoba peruntungan setelah beberapa kali dipecat sepihak.

Menurut Danu, pabrik-pabrik di Tangerang ketat membatasi usia maksimal calon pekerja dibawah 25 tahun. Padahal tahun ini usia Danu menginjak 27 tahun.

Meski masih muda, perusahaan tidak lagi menganggapnya produktif. “Di Tangerang banyak perusahaan cuma saya terpaut umur. Saya sudah lebih 25 tahun, itu yang bikin susah.”

Perusahaan hanya menerima pelamar senior asal sudah punya pengalaman. Padahal pengalaman Danu tidak spesifik pada satu bidang pekerjaan.  

“Harapannya bisa keterima kerja di sini. Kalau saya masih muda mah jaga outlet terus aja nggak apa. Sekarang mikirnya nggak gitu lagi. Harus nyari yang kerja tetap,” katanya.

Selama di Magelang Danu makin rajin mengirim lamaran ke beberapa perusahaan lewat email. Sempat dapat panggilan wawancara ke pabrik rokok HS tapi sepertinya gagal.

Load More