Budi Arista Romadhoni
Senin, 08 Juni 2026 | 19:34 WIB
Pemerhati Pembangunan Jateng, Zulkifli Gayo dalam Ngobrol Inspiratif : Anak Muda Bagian dari Solusi Negeri yang digelar Gerakan Solusi Indonesia (GSI) di Pendopo Pemkab Klaten, Jawa Tengah, pada Senin (8/6/2026).
Baca 10 detik
  • Zulkifli Gayo meminta anak muda di Klaten agar selektif terhadap informasi infrastruktur jalan di media sosial.
  • Kemantapan jalan di Jawa Tengah mencapai 84 persen, namun kerusakan justru banyak terjadi di jalan kabupaten/kota.
  • Generasi muda diimbau menggunakan data dalam menyampaikan kritik daripada terjebak pada asumsi informasi yang tidak akurat.

SuaraJawaTengah.id - Anak muda di Jawa Tengah (Jateng) diminta selektif terhadap isu liar soal jalan di media sosial (medsos) yang terkesan menyudutkan pemerintahan Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi.

Pemerhati Pembangunan Jateng, Zulkifli Gayo, menyoroti maraknya kritik netizen di media sosial yang dinilai salah sasaran dalam menanggapi isu infrastruktur jalan rusak di wilayah Provinsi Jateng.

"Harus selektif ya. Jangan fomo, apalagi terkecoh informasi liar di medsos," terang dia dalam acara Ngobrol Inspiratif : Anak Muda Bagian dari Solusi Negeri yang digelar Gerakan Solusi Indonesia (GSI) di Pendopo Pemkab Klaten, Jawa Tengah, pada Senin (8/6/2026).

Menurutnya, gelombang kritik di medsos tersebut cenderung minim literasi karena tidak memahami pembagian kewenangan status jalan antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.

Zulkifli mengungkapkan bahwa berdasarkan data statistik resmi, tingkat kemantapan jalan yang berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebenarnya sudah berada di angka yang cukup tinggi, yakni mencapai 84 persen.

"Hari ini dikritik gubernur itu terkait dengan jalan. Hantam di manapun semuanya bicara terkait dengan jalan dan lain sebagainya. Padahal kemantapan jalan Jawa Tengah itu itu 84%. Kenapa? Karena ada di jalan itu kewenangan kabupaten kota, kewenangan provinsi, sama kewenangannya pusat," ujar Zulkifli.

Lebih lanjut Zulkifli yang juga Sekretaris Umum HIPMI Jawa Tengah ini menjelaskan bahwa titik ekstrem kerusakan infrastruktur jalan mayoritas justru tersebar di jalur-jalur transportasi tingkat kabupaten dan kota.

Jalur-jalur inilah yang sering kali diunggah oleh masyarakat hingga menjadi viral di berbagai platform digital, namun tanggung jawab perbaikannya secara keliru dialamatkan kepada gubernur.

"Yang menjadi permasalahan itu ada di jalan kabupaten kota. Karena memang baru 64% rata-rata kemantapan".

Baca Juga: Tumbuhkan Kesadaran Ekologis, Taj Yasin Ajak Ratusan Santri Tanam Mangrove di Rembang

“Tetapi yang diserang itu kan karena kita itu minim literasi terkait dengan ini, ya yang penting siapa yang ada, siapa yang lagi viral di media, maka itu aja yang disalah," tegas Zulkifli secara komprehensif.

Zulkifli mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa dan aktivis, untuk mengubah pola kritik berbasis asumsi media sosial menjadi kritik yang berbasis data (data-driven). Ia menekankan pentingnya kemampuan analitik agar generasi muda tidak terjebak dalam arus post-truth atau era ketidakpastian informasi.

"Di era yang sekarang ini kita, kepemimpinan harus berbasisnya data. Nah ini menjadi penting bagi teman-teman lagi yang mau terjun ke dalam dunia aktivis nanti. Ini penting menjadi dasar kita sebagai pembuat agar bisa ngomongin hal-hal yang kayak gini," ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Zulkifli juga membagikan pengalaman dan perjalanan kariernya.

Ia berpesan agar anak muda berani dan berinvestasi pada diri sendiri untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Anak muda dinilai harus memiliki kompetensi yang menonjol agar dilirik dan tidak sekadar menjadi rata-rata di antara ribuan orang lain.

Load More