Budi Arista Romadhoni
Selasa, 30 Juni 2026 | 14:40 WIB
Peluncuran Buku Biodiversity PLTU Jawa Tengah 2 x 1.000 MW yang resmi diluncurkan PT Bhimasena Power Indonesia (BPI), Selasa (30/6/2026).
Baca 10 detik
  • PT Bhimasena Power Indonesia meluncurkan buku Biodiversity hasil pemantauan ilmiah selama periode 2013 hingga 2025 di Batang.
  • Kawasan operasional PLTU Batang menjadi habitat bagi 465 spesies flora dan fauna, termasuk satwa langka dan burung migran.
  • Publikasi ini menjadi bukti transparansi perusahaan dalam menyelaraskan operasional pembangkit listrik dengan komitmen pelestarian keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.

SuaraJawaTengah.id - Kawasan di sekitar operasional PLTU Jawa Tengah 2 x 1.000 MW (PLTU Batang) tercatat menjadi habitat bagi sedikitnya 465 spesies flora dan fauna, termasuk satwa langka dan burung migran. Temuan tersebut menjadi salah satu hasil penting dalam Buku Biodiversity PLTU Jawa Tengah 2 x 1.000 MW yang resmi diluncurkan PT Bhimasena Power Indonesia (BPI), Selasa (30/6/2026).

Buku yang disusun berdasarkan pemantauan ilmiah selama periode 2013–2025 itu menjadi bentuk keterbukaan informasi sekaligus dokumentasi mengenai kondisi keanekaragaman hayati di sekitar kawasan operasional pembangkit listrik.

Disusun bersama Kelompok Pecinta Alam Haliaster dari Departemen Biologi Universitas Diponegoro (Undip) dan diterbitkan oleh Gagas Bisnis, buku tersebut memuat hasil pemantauan pada enam titik pengamatan di sekitar PLTU Batang.

Hasilnya menunjukkan kawasan tersebut memiliki kekayaan biodiversitas yang cukup tinggi, meliputi 204 jenis tumbuhan, 108 jenis burung, 80 jenis kupu-kupu, 36 jenis capung, 30 jenis herpetofauna (reptil dan amfibi), serta tujuh jenis mamalia.

Dari total 108 jenis burung yang teridentifikasi, terdapat 17 spesies satwa dilindungi serta 16 jenis burung migran yang datang dari kawasan Australia dan Asia. Kawasan ini juga menjadi habitat bagi Gelatik Jawa (Padda oryzivora) yang berstatus terancam punah (Endangered), serta Kepudang Kuduk-Hitam (Oriolus chinensis), maskot fauna Provinsi Jawa Tengah.

Chief Operating Officer PT Bhimasena Power Indonesia, Naofumi Yasuda, mengatakan penyediaan energi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan.

"Buku Biodiversity yang diluncurkan bukan sekadar memenuhi kewajiban administrasi, melainkan wujud akuntabilitas ilmiah serta bukti otentik di lapangan yang berhasil dicapai berkat sinergi pentahelix antara perusahaan, akademisi, pemerintah, masyarakat, dan media," ujar Naofumi.

Menurutnya, publikasi buku tersebut diharapkan menjadi referensi ilmiah sekaligus bentuk transparansi perusahaan dalam mendokumentasikan perkembangan ekosistem di sekitar wilayah operasional pembangkit.

Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, mengapresiasi penyusunan buku tersebut. Menurutnya, dokumentasi itu menunjukkan bahwa upaya pembangunan industri dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian lingkungan apabila disertai pengawasan dan komitmen yang kuat.

Baca Juga: 8 Wisata Terbaru dan Populer di Batang untuk Libur Sekolah Akhir 2025

"Di tengah tantangan perubahan iklim dan suhu ekstrem global, kita tetap harus mengantisipasi berbagai risiko lokal seperti potensi emisi, pencemaran air, abrasi, hingga dampaknya bagi nelayan dan petani. Komitmen tersebut dijawab melalui pemantauan lingkungan, rehabilitasi mangrove, pengelolaan limbah yang lebih baik, serta program pemberdayaan masyarakat," katanya.

Ia menegaskan pembangunan daerah tidak boleh menempatkan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan sebagai dua pilihan yang saling bertentangan.

"Kita tidak memilih antara listrik dan lingkungan, kita memilih keduanya," tegas Faiz.

Peluncuran buku turut dirangkaikan dengan diskusi panel yang menghadirkan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, serta manajemen PT Bhimasena Power Indonesia. Diskusi tersebut membahas hasil penelitian biodiversitas, kolaborasi pemerintah dan sektor swasta dalam konservasi, serta keterlibatan masyarakat dalam program restorasi ekosistem pesisir yang telah dijalankan sejak 2012.

Load More