- BMKG memperingatkan masyarakat pesisir Pantura, khususnya Kota Pekalongan, untuk waspada terhadap ancaman banjir rob pada 7 Juli 2026.
- Fenomena pasang air laut akibat gaya tarik bulan dan tiupan angin kencang berpotensi memicu perluasan genangan rob.
- BMKG mengimbau warga rutin memantau informasi cuaca agar dapat melakukan langkah antisipasi dini dalam meminimalkan dampak banjir.
SuaraJawaTengah.id - Ancaman banjir rob kembali membayangi kawasan pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas II Ahmad Yani Semarang mengingatkan masyarakat, khususnya yang bermukim di wilayah pesisir Kota Pekalongan, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi genangan akibat pasang air laut.
BMKG menyebut kenaikan muka air laut dipicu oleh fenomena astronomis berupa gaya tarik bulan yang berpotensi memicu banjir rob pada periode tertentu.
Ketua Tim Manajerial Operasional BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang Giyarto mengatakan kawasan pesisir Pantura, termasuk Pekalongan, menjadi daerah yang berisiko terdampak banjir rob sehingga masyarakat diminta mulai melakukan langkah antisipasi.
"Oleh karena itu, kawasan pesisir Pantura termasuk Pekalongan memiliki potensi terdampak rob yang perlu diantisipasi bersama. Kami mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir rob tersebut," katanya di Pekalongan, Selasa (7/7/2026).
Menurut Giyarto, banjir rob umumnya terjadi saat fase bulan purnama maupun awal bulan, ketika permukaan air laut mengalami pasang lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Tak hanya itu, BMKG juga mengingatkan adanya faktor lain yang dapat memperparah kondisi rob, yakni angin yang bertiup menuju daratan.
"Angin darat yang terjadi bersamaan dengan pasang air laut dapat meningkatkan tinggi muka air laut sehingga berpotensi memperluas genangan di kawasan pesisir," ujarnya.
Untuk mengurangi risiko dampak banjir rob, BMKG terus mengintensifkan penyebaran informasi peringatan dini melalui berbagai kanal, mulai dari aplikasi Info BMKG, media massa, hingga koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan.
"Dengan akses informasi yang semakin cepat dan mudah, masyarakat diharapkan dapat mengambil langkah antisipasi guna meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh rob maupun cuaca ekstrem lainnya," kata Giyarto.
Baca Juga: Kasus 9 ASN Brebes Jadi Alarm Integritas, Pengawasan Presensi Tak Hanya Andalkan Aplikasi
BMKG mengimbau masyarakat pesisir untuk rutin memantau perkembangan informasi cuaca dan pasang surut air laut, terutama bagi nelayan, pelaku usaha di kawasan pantai, serta warga yang tinggal di daerah langganan rob, agar dapat mengantisipasi potensi genangan lebih awal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
BMKG Petakan Kondisi Tanah hingga Kerusakan Pascagempa NTT
-
KPK Bongkar Modus Jual-Beli Kursi Unsoed: Rektor Beri Akses User ID untuk Loloskan Camaba
-
Orang Mulai Curhat ke Chatbot, Psikolog UGM: Profesi Kami Bisa Tergeser AI
-
Sidang Korupsi Fadia Arafiq: Eks Ajudan Bongkar Titipan Uang OPD untuk THR dan Ribuan Parsel
-
Luthfi Tantang Kepala Daerah Jaga APBD: Tak Boleh Ada Satu Rupiah Pun Salah Sasaran