- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menambah fungsi program Dokter Spesialis Keliling untuk skrining kusta guna mempercepat eliminasi penyakit tersebut.
- Gubernur Ahmad Luthfi menginstruksikan pemerintah kabupaten dan kota meningkatkan deteksi dini untuk memutus rantai penularan dan mencegah kecacatan pasien.
- Hingga triwulan II 2026, ditemukan 837 kasus kusta di Jawa Tengah sebagai tindak lanjut dari 1.541 kasus sepanjang 2025.
SuaraJawaTengah.id - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperluas fungsi Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) dengan menambahkan skrining kusta sebagai langkah mempercepat eliminasi penyakit tersebut. Strategi ini ditempuh menyusul masih ditemukannya 837 kasus kusta di Jawa Tengah hingga triwulan II 2026, setelah sepanjang 2025 tercatat 1.541 kasus.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan percepatan eliminasi kusta harus dimulai dari deteksi dini. Karena itu, program Speling dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) akan dimanfaatkan untuk menjangkau masyarakat hingga ke daerah-daerah, sehingga penderita dapat ditemukan lebih cepat dan segera menjalani pengobatan.
Menurut Luthfi, kusta bukan penyakit kutukan, melainkan infeksi bakteri yang dapat disembuhkan apabila ditangani sejak dini dan menjalani pengobatan hingga tuntas.
"Kita akan memanfaatkan Program Speling untuk skrining kusta. Bupati dan wali kota harus diberi target melakukan terobosan agar deteksi dini berjalan lebih masif," kata Luthfi di sela Konferensi Nasional Kusta 2026 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Ia menegaskan seluruh pemerintah kabupaten/kota diminta memperkuat pendataan dan deteksi kasus di lapangan. Data hasil skrining akan dihimpun di tingkat provinsi sebagai dasar intervensi, termasuk memastikan seluruh pasien menjalani pengobatan secara berkelanjutan tanpa terputus.
Luthfi menjelaskan, tingginya jumlah kasus yang ditemukan justru menunjukkan sistem deteksi dini mulai berjalan lebih baik. Menurutnya, semakin cepat penderita ditemukan, semakin besar peluang memutus rantai penularan dan mencegah kecacatan akibat keterlambatan pengobatan.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan kusta merupakan penyakit akibat infeksi bakteri yang sudah tersedia obatnya. Tantangan terbesar saat ini bukan pengobatan, melainkan masih banyak kasus yang terlambat terdeteksi.
"Kusta ini yang jadi masalah adalah telat terdeteksi. Strateginya cuma satu, temukan sebanyak-banyaknya lalu diobati," kata Budi.
Dengan penguatan skrining melalui Speling dan CKG, Pemprov Jawa Tengah berharap target eliminasi kusta dapat dipercepat sekaligus menghapus stigma masyarakat terhadap penyakit yang sebenarnya dapat disembuhkan tersebut.
Baca Juga: Di Balik Kursi Roda Abang: Peluh dan Cinta Seorang Gubernur Jateng di Jalur Lari
Berita Terkait
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Selundupkan 1.689 Burung Liar ke Jakarta, Bus Sinar Jaya Dicegat di Pelabuhan Bakauheni
- KPU Bisa Tindaklanjuti Putusan MK dengan Menyatakan Syarat Pendidikan Gibran di Pilpres 2024 Tak Sah
- Rekonsiliasi Politik, Anies Baswedan Jadi Menteri Prabowo?
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
Pilihan
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
Terkini
-
Suhu Semarang Diprakirakan Tembus 36 Derajat, Warga Perlu Antisipasi Cuaca Siang Hari
-
Semen Gresik Kenalkan Dunia Kerja Industri kepada Puluhan Mahasiswa Prodi Fisika UAD Yogyakarta
-
Ditinggal 15 Menit, Balita di Pati Tewas Terbakar, Obat Nyamuk Diduga Jadi Pemicu
-
Kapolda Jateng Ancam PTDH Polisi yang Bekingi Judi dan Narkoba
-
AKBP Condro Sasongko, Polisi Jenaka Kini Dipercaya Pimpin Polresta Solo