- Direktorat Siber Polda Jateng mengusut penyebaran pornografi *deepfake* wajah mahasiswi PTN Surakarta di media sosial sejak awal tahun 2026.
- Penyidik telah mengantongi profil terduga pelaku dan mendalami jaringan tujuh mahasiswi alumni SMA yang sama sebagai korban.
- Kasus kejahatan siber menggunakan kecerdasan buatan tersebut menyebabkan korban berinisial E mengalami syok berat serta trauma psikologis.
Kasus ini diduga bukan hanya menyasar satu orang.
Berdasarkan hasil penelusuran sementara, sedikitnya terdapat tujuh perempuan yang menjadi korban dengan modus serupa. Seluruh korban diketahui berstatus mahasiswa.
"Korban kurang lebih ada tujuh orang, semuanya perempuan dan berstatus mahasiswa. Yang saya dampingi merupakan mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Surakarta," kata Zaenal.
Dari hasil profiling penyidik, para korban diketahui memiliki keterkaitan karena pernah bersekolah di SMA yang sama. Temuan tersebut menjadi salah satu petunjuk penting dalam mengungkap pelaku.
Zaenal juga menyebut dugaan sementara mengarah kepada seorang mahasiswa. Namun, identitas terduga pelaku belum dapat dipublikasikan karena proses penyelidikan masih berlangsung.
"Saya yakin penyidik bisa mengungkap kasus ini karena petunjuk-petunjuknya sudah cukup jelas. Namun untuk identitas pelaku, kita serahkan sepenuhnya kepada penyidik sampai proses penyelidikan selesai," tegasnya.
Minta Atensi Khusus Kapolda Jateng
Zaenal berharap Kapolda Jawa Tengah memberikan perhatian khusus terhadap penanganan perkara tersebut. Menurutnya, pengungkapan kasus ini penting sebagai peringatan bahwa penyalahgunaan teknologi AI untuk membuat konten pornografi merupakan kejahatan serius yang dapat menghancurkan kehidupan korban.
"Kapolda untuk memberikan atensi terhadap kasus ini supaya menjadi efek jera bagi pelaku maupun orang yang mau coba-coba dengan mengedit seolah-olah itu yang benar dibuat konten pornografi," pungkasnya.
Baca Juga: Duh! Dugaan Kekerasan Seksual Oknum Kiai di Pati, Korban Capai 50 Orang
Dengan perkembangan penyelidikan yang disebut telah mengarah pada identitas pelaku, kasus ini menjadi ujian bagi aparat penegak hukum dalam menghadapi kejahatan siber berbasis kecerdasan buatan yang kian berkembang. Di sisi lain, perkara ini juga menjadi pengingat bahwa penyalahgunaan teknologi AI tidak hanya menciptakan konten palsu, tetapi juga dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam bagi para korban.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran
-
Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet
-
Viral Atlet Silat Kejang di Porprov Jateng, Wasit Dinilai Belum Berpengalaman
-
Jelang Akhir Tahun, Wakil Ketua DPRD Jateng Wanti-wanti Ancaman Kelangkaan dan Antrean BBM
-
Hati-hati! Wakil Ketua DPRD Jateng Peringatkan Bahaya Bullying di Sekolah