- Pemerintah Kabupaten Sleman menyiagakan 250 personel lintas instansi melalui apel karhutla pada Selasa, 11 Agustus 2026.
- Apel siaga yang digelar BPBD Sleman tersebut bertujuan mengantisipasi kebakaran di lereng dan kawasan hutan Gunung Merapi.
- Langkah kesiapsiagaan ini dilakukan untuk mencegah kerusakan ekosistem, gangguan kualitas udara, serta hambatan aktivitas masyarakat.
SuaraJawaTengah.id - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan lereng dan hutan Gunung Merapi menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Sleman. Sebanyak 250 personel lintas instansi disiagakan untuk mengantisipasi munculnya titik api hingga mencegah kebakaran meluas.
Kesiapsiagaan tersebut ditunjukkan melalui apel karhutla 2026 yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Selasa (11/8/2026).
Apel tersebut melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, tim SAR, Satpol PP, perwakilan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), hingga relawan penanggulangan bencana.
Plt. Wakapolresta Sleman AKBP Sudarmawan mengatakan kesiapsiagaan menjadi penting karena karakteristik wilayah Sleman memiliki kawasan yang harus mendapat pengawasan ketat, khususnya lereng dan kawasan hutan Gunung Merapi.
“Kesiapsiagaan bencana kebakaran bukan semata persoalan penanggulangan api. Dampak kebakaran jauh lebih luas, mulai dari kerusakan ekosistem, terganggunya kualitas udara, hingga terganggunya aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat,” kata Sudarmawan saat membacakan amanat Bupati Sleman Harda Kiswaya.
Karena itu, penanganan tidak boleh menunggu sampai api membesar. Deteksi dini, pemantauan kawasan rawan serta kecepatan komunikasi antarpihak menjadi kunci untuk mencegah potensi karhutla berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Sudarmawan juga meminta masyarakat ikut menjadi “mata dan telinga” dalam mendeteksi potensi kebakaran.
“Segera laporkan setiap potensi titik api atau indikasi kebakaran kepada pihak berwenang agar dapat ditangani sedini mungkin,” ujarnya.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengatakan apel tersebut sekaligus menjadi sarana untuk menguji kesiapan personel, peralatan pemadam, serta koordinasi lintas instansi dalam menghadapi kemungkinan kebakaran di kawasan lahan rentan dan lereng gunung.
Baca Juga: Gagal Berhaji Lewat Jalur Belakang, 13 WNI Dicegat Imigrasi di Bandara YIA
Dengan melibatkan ratusan personel dari berbagai unsur, kesiapsiagaan ini diharapkan dapat mempercepat respons apabila sewaktu-waktu muncul titik api.
Ancaman karhutla di Sleman bukan hanya soal api yang membakar lahan. Kawasan hutan dan ekosistem Merapi, kualitas udara, hingga aktivitas masyarakat ikut dipertaruhkan jika kebakaran terlambat dideteksi dan ditangani.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Sleman Siaga Karhutla, Lereng dan Hutan Gunung Merapi Jadi Perhatian
-
Sekolah Kemitraan dan Mobilitas Sosial: Pendekatan Collaborative Governance
-
Ekspor Industri Jateng Melejit 41 Persen, Konsumsi Rumah Tangga Justru Melambat
-
Sampah Bukan Cuma Urusan Pemerintah, Ahmad Luthfi Soroti Mentalitas Warga
-
Ekspor Jateng Tembus 7 Miliar Dolar, Sarif Abdillah: Jangan Cuma Jual Bahan Baku!