Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 02 Oktober 2026 | 14:36 WIB
Moh. Miftahul Arief, guru MI Miftahul Akhlaqiyah Ngaliyan, Semarang. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Moh. Miftahul Arief meraih gelar Doktor Studi Islam di UIN Walisongo Semarang dengan nilai nyaris sempurna pada 30 September 2026.
  • Ia menyelesaikan disertasinya di samping tempat tidur ibunya di rumah sakit meskipun sang ibu wafat sebelum ujian promosi doktor.
  • Disertasinya meneliti strategi pemasaran madrasah perkotaan dengan merumuskan Urban-Spiritual Resonance Model serta empat tipologi pemasaran madrasah.

SuaraJawaTengah.id - Perjalanan Moh. Miftahul Arief meraih gelar doktor di UIN Walisongo Semarang tidak berlangsung dalam jalan yang mudah.

Sebelum menyandang gelar Doktor Studi Islam, guru MI Miftahul Akhlaqiyah Ngaliyan itu pernah menjadi loper koran di lampu merah hingga bekerja sebagai penjaga toko buku untuk membiayai hidup dan pendidikannya.

Kini, Arief resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi S-3 Studi Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Rabu (30/9/2026).

Ujian yang dipimpin Rektor UIN Walisongo Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. tersebut menetapkan Arief lulus dengan nilai disertasi 3,98, atau nyaris sempurna.

"Kepadanya diberi gelar Doktor Studi Islam, dan merupakan doktor ke-456 yang telah diluluskan oleh UIN Walisongo," kata Prof. Musahadi.

Bagi Arief, pencapaian tersebut bahkan sempat berada di luar bayangannya. Delapan tahun lalu, ia mengaku sudah merasa bahagia hanya dengan mengantar keluarganya mengikuti ujian terbuka doktor.

"Saya tak pernah bermimpi jadi doktor. Dulu, mengantar famili yang ujian terbuka sudah senang sekali bisa foto di photobooth-nya. Tapi tak terbesit kuliah S-3, mengingat usia sudah tidak muda dan biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikit," ungkap pria berusia 45 tahun itu.

Pernah Jual Koran di Lampu Merah

Jauh sebelum berada di ruang sidang promosi doktor, Arief harus menjalani berbagai pekerjaan untuk menopang pendidikan dan kehidupannya.

Baca Juga: Bejat! Ini 7 Fakta Kasus Guru SMP Kirim Chat Mesum ke Murid di Blora

Semasa kuliah, ia pernah berjualan koran di lampu merah Kalibanteng, tepat di samping Museum Ranggawarsita Semarang. Pekerjaan tersebut dijalaninya untuk membantu membiayai kebutuhan hidup sekaligus pendidikan.

Setelah menjadi guru pada 2005, perjuangan tersebut belum berhenti. Pagi hingga siang Arief mengajar, kemudian melanjutkan aktivitasnya dengan menjaga salah satu outlet Toko Buku Gramedia Pandanaran Semarang hingga pukul 22.00 WIB.

"Saat menjadi guru MI, pagi mengajar, siang hingga malam menjaga outlet di Gramedia Pandanaran. Saat itu yang saya pikirkan sederhana, bagaimana tetap bisa belajar sambil bekerja," kenangnya.

Ia juga pernah menjalankan usaha pengetikan komputer dari rumah bersama istrinya dengan hanya bermodalkan satu komputer lama. Hingga kini, Arief masih menjalani pekerjaan sampingan sebagai sopir taksi online.

Menurut Arief, berbagai pekerjaan tersebut bukan persoalan selama dilakukan secara halal dan baik. Bahkan, menjadi sopir taksi online menurutnya memberikan manfaat lain karena sekaligus memperluas relasi.

Perjalanan tersebut kemudian membawanya semakin jauh di dunia pendidikan. Setelah lima tahun menjadi guru, Arief dipercaya menjadi Kepala MI Miftahul Akhlaqiyah pada 2010-2022.

Load More