- WALHI Jawa Tengah mempertanyakan urgensi pembangunan PLTP Gunung Ungaran karena pasokan listrik wilayah tersebut sudah surplus 2.800 MW.
- Pakar Undip menyebutkan bahwa fasilitas pengeboran PLTP hanya memerlukan lahan sekitar tiga hektare dari total wilayah kerja 29.000 hektare.
- Pakar Undip menegaskan bahwa pengeboran sedalam ribuan meter tidak mengganggu sumber air tanah warga yang jauh lebih dangkal.
Kekhawatiran lain yang muncul adalah kemungkinan aktivitas pengeboran mengurangi ketersediaan air tanah masyarakat.
Agus menjelaskan bahwa kegiatan geothermal umumnya menyasar sumber panas bumi pada kedalaman sekitar 1.500 hingga 2.500 meter. Sementara itu, air tanah yang dimanfaatkan masyarakat umumnya berada pada kedalaman sekitar 100 hingga 200 meter.
Ia juga menjelaskan bahwa air permukaan digunakan dalam tahapan pengeboran untuk membantu menentukan titik pengeboran.
Meski demikian, penjelasan mengenai perbedaan kedalaman tersebut menjadi bagian dari aspek teknis yang perlu dipahami masyarakat dalam menilai potensi dampak proyek terhadap sumber air.
Selain air tanah, potensi kemunculan gas hidrogen sulfida (H2S) atau gas berbau seperti telur busuk juga menjadi perhatian dalam pengembangan pembangkit panas bumi.
Agus membandingkan persoalan tersebut dengan operasional PLTP Dieng dan menyebut adanya pemantauan secara berkala untuk mengawasi kondisi di lapangan.
Kekhawatiran terhadap lingkungan, menurutnya, perlu dijawab melalui penjelasan ilmiah dan pengawasan terhadap pelaksanaan proyek.
Candi Gedongsongo Harus Tetap Dilindungi
Agus secara tegas menyatakan dukungannya terhadap perlindungan kawasan Candi Gedongsongo. Ia menilai keberadaan cagar budaya tersebut tidak boleh terganggu oleh kegiatan pengembangan panas bumi.
Baca Juga: Banjir Rob Mengintai Pesisir Jateng, BMKG Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan
"Soal Candi Gedongsongo, saya sepakat mendukung, tidak boleh diganggu gugat. Apa pun yang terjadi, jangan pernah mengganggu cagar budaya. Ketika PLN menentukan titik di situ, saya yang pertama menentang," katanya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengembangan energi panas bumi perlu memperhatikan keberadaan kawasan bersejarah dan memastikan lokasi pembangunan tidak mengancam kelestarian cagar budaya.
Di samping potensi energi, Agus menilai pembangunan PLTP juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi daerah, terutama melalui penyerapan tenaga kerja dalam berbagai tahapan proyek.
Menurut dia, kebutuhan tenaga kerja dapat muncul sejak tahap prakonstruksi, berlanjut selama pembangunan fasilitas, hingga pembangkit memasuki fase produksi atau operasional.
Manfaat ekonomi tersebut, kata Agus, menjadi salah satu potensi positif yang dapat dipertimbangkan dalam pengembangan panas bumi.
Meski demikian, besarnya manfaat ekonomi tetap perlu dilihat bersama dengan kebutuhan energi, dampak lingkungan, dan kepentingan masyarakat di sekitar lokasi proyek.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jokowi Tak Lagi Optimis Prabowo-Gibran 2 Periode, Gerindra Respons Santai: Pilpres Masih Jauh
- KPU Bisa Tindaklanjuti Putusan MK dengan Menyatakan Syarat Pendidikan Gibran di Pilpres 2024 Tak Sah
- Selundupkan 1.689 Burung Liar ke Jakarta, Bus Sinar Jaya Dicegat di Pelabuhan Bakauheni
- Profil Suhartoyo, Ketua MK yang Menolak Gugatan Soal Ijazah Gibran
- Jokowi Tampak Tak Lagi Optimistis Gibran Jadi Pasangan Prabowo di Pilpres 2029
Pilihan
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
Terkini
-
Listrik Jateng Surplus 2.800 MW, WALHI Pertanyakan Urgensi PLTP Gunung Ungaran
-
500 Relawan BRI Peduli Bergerak Jaga Kebersihan di Tengah Gelaran MotoGP Mandalika 2026
-
Pelajar SMP Tewas dengan Luka di Kepala di Semarang, Polisi Selidiki Dugaan Tawuran
-
Empat Tahun Berturut-turut, BRI Jadi Merek Paling Bernilai di Indonesia Versi Brand Finance
-
Semarang Heritage Night Run 2026, Strategi Hidupkan Wisata dan Ekonomi Kota Lama