- Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengunjungi Dusun Giyanti Wonosobo untuk meninjau potensi budaya tradisional pada November 2026.
- Seniman Sri Mulyani mendirikan Sanggar Tari Ngesti Laras sejak tahun 1992 guna melestarikan alat musik bundengan kepada generasi muda.
- Kementerian Ekonomi Kreatif menyelenggarakan program Aktivasi Desa Kreatif guna memperkuat seni pertunjukan dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.
SuaraJawaTengah.id - Jari Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya bergerak pelan di antara dawai-dawai bundengan. Di hadapannya, Sri Mulyani, seniman sekaligus pendiri Sanggar Tari Ngesti Laras, memberi petunjuk cara memainkan alat musik tradisional khas Wonosobo itu.
Dengan sabar, Mulyani mengajarkan cara memainkan alat musik berbahan bambu yang bentuknya menyerupai cangkang kura-kura itu.
“Susah juga, ya?” ujar Riefky, Senin (2/11/2026).
Jari-jari Riefky mulai mencoba lagi memetik dawai mengikuti petunjuk sang maestro. Sesekali Mulyani membetulkan gerakan tangan sang menteri. Kali ini, petikannya mulai menemukan irama. Dari sudut lain, Ananda Mikola, salah seorang murid Mulyani, mulai melantunkan suara. Ia bernyanyi mengikuti irama bundengan yang dimainkan sang menteri. Perpaduan petikan dan suara itu seketika mengundang tepuk tangan hadirin.
Memang ada yang berbeda dari kunjungan Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya ke Dusun Giyanti, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Minggu (1/11/2026).
Adegan sederhana itu memperlihatkan, bagaimana sebuah tradisi dan kreativitas bekerja. Di Giyanti, bundengan bukan merupakan alat musik penghubung antargenerasi, sekaligus ruang perjumpaan yang terbuka bagi siapa saja.
Bundengan sendiri punya riwayat yang panjang. Dahulu, alat musik ini merupakan caping penutup kepala yang digunakan para penggembala itik. Dari benda sederhana yang melindungi kepala dari hujan dan panas itu, lahir bunyi-bunyian yang kemudian menjadi bagian dari kesenian khas Wonosobo. Mulyani berusaha memastikan bunyi-bunyian bundengan tak hilang ditelan waktu.
Sejak mendirikan Sanggar Tari Ngesti Laras pada 1992, Mulyani mengabdikan hidupnya untuk mengajarkan seni tradisional kepada anak-anak. Perhatiannya tak berhenti pada tari Topeng Lengger. Sejak 2015, ia juga tekun memperkenalkan bundengan kepada generasi muda, setelah tertarik mendalami alat musik itu dan belajar langsung kepada maestro bundengan.
Pekerjaan itu tidak selalu mudah. Pada awalnya, hanya sedikit anak yang tertarik mempelajarinya. Namun Mulyani terus mengajar, membawa bundengan ke sekolah, sanggar, dan berbagai panggung pertunjukan. Ia bahkan pernah berjalan mengelilingi Alun-alun Wonosobo sambil menggotong bundengan, berharap ada orang yang berhenti untuk mendengarkan.
Baca Juga: Legendaris Sejak 1965, Ini 5 Fakta Soto Kuali Mbah Sumarsono yang Tak Pernah Sepi
Kini, usahanya mulai berbuah. Bundengan menjadi bagian dari pertunjukan Topeng Lengger yang dibawakan anak-anak didiknya. Bersama sanggar, ia juga membawa kesenian tersebut ke sejumlah panggung internasional, antara lain di Australia, Thailand, dan Jerman.
Di antara anak-anak yang belajar kepadanya, ada Ananda Mikola. Seni pertunjukan memberinya sesuatu yang dahulu sulit ia temukan: keberanian untuk berdiri di hadapan orang banyak. Sebagai penyandang disabilitas daksa, Ananda pernah merasa berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Mulyani membantunya menemukan jalan untuk mengekspresikan diri melalui seni.
Kisah Mulyani dan Ananda menjadi salah satu wajah dari potensi ekonomi kreatif yang tumbuh di Giyanti. Desa yang dikenal dengan tradisi Topeng Lengger, Bundengan, dan berbagai kesenian rakyat itu memiliki modal budaya yang kuat. Tantangannya sekarang, bagaimana ia berkembang menjadi produk pertunjukan yang memiliki nilai ekonomi.
Itulah yang menjadi salah satu perhatian Kementerian Ekonomi Kreatif melalui program Aktivasi Desa Kreatif. Di Giyanti, kementerian menghadirkan Workshop Harmoni Seni Pertunjukan, para pegiat seni diajak mendalami pengemasan pertunjukan, mulai dari koreografi, tata panggung, hingga kostum, tanpa meninggalkan nilai dan pakem tradisi.
Pelatihan tersebut juga menyentuh aspek yang kerap menjadi tantangan bagi komunitas seni di daerah: pemasaran. Para peserta didorong memperkuat kemampuan promosi melalui media digital, membangun identitas pertunjukan, serta membuka peluang kemitraan dan sponsorship. Upaya regenerasi menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut.
Di antara peserta dan pegiat seni Giyanti, ada anak-anak muda yang mulai menaruh masa depannya pada musik tradisional. Ahnaf Lian Maulana, misalnya, sudah menekuni gamelan sejak berusia 12 tahun. Berawal dari memainkan bonang, remaja 17 tahun itu kini juga belajar olah vokal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- 7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
Hadirkan Beautiful Nightmare, Saloka at Night Gelar Pesta Piyama Halloween Berhadiah Menarik
-
Kapolres Sukoharjo Dinonaktifkan Usai Penggeledahan Ponpes, Polri Periksa Tiga Pejabat Lain
-
Kunjungan di Wonosobo, Menteri Riefky Main Bundengan Dibimbing Sri Mulyani, Ananda Mikola Bernyanyi
-
Atasi Limbah Rumah Tangga, Pemprov Jateng Diganjar Rekor MURI Pengumpulan Minyak Jelantah Terbanyak
-
14 Tahun Mengabdi, Mantri BRI Wisnu Dampingi UMKM dari Kesulitan Modal hingga Naik Kelas