- Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengunjungi Dusun Giyanti Wonosobo untuk meninjau potensi budaya tradisional pada November 2026.
- Seniman Sri Mulyani mendirikan Sanggar Tari Ngesti Laras sejak tahun 1992 guna melestarikan alat musik bundengan kepada generasi muda.
- Kementerian Ekonomi Kreatif menyelenggarakan program Aktivasi Desa Kreatif guna memperkuat seni pertunjukan dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.
Ahnaf punya cita-cita membentuk grup musik yang beranggotakan anak-anak muda Wonosobo. Ia ingin musik tradisional daerahnya terus dikenal dan berkembang. Temannya, Yudi, memiliki mimpi berbeda. Pemuda yang tumbuh dalam keluarga seniman tersebut berharap suatu hari bisa menjadi bagian dari kelompok pemain gamelan di Keraton Yogyakarta. Ia mulai belajar memainkan saron dan demung sejak duduk di bangku SMP.
Di sisi lain, ada pula Suratno, pegiat seni yang telah berkecimpung selama lebih dari 30 tahun. Petani sekaligus pemain gamelan ini mampu memainkan berbagai instrumen tanpa harus bergantung pada notasi tertulis. Baginya, kepekaan telinga dan kebiasaan berlatih menjadi modal utama untuk menjaga musik tradisional tetap hidup.
Cerita mereka memperlihatkan bahwa regenerasi seni membutuhkan ruang belajar, kesempatan tampil, dan dukungan agar komunitas dapat berkembang. Karena itu, Aktivasi Desa Kreatif juga diarahkan untuk memperkuat ruang kreatif sebagai tempat masyarakat belajar, berkarya, berinteraksi, sekaligus mempromosikan produk dan potensi lokal.
Selain seni pertunjukan, penguatan kapasitas masyarakat Giyanti juga menyentuh pemanfaatan teknologi. Melalui Workshop SIAP Talenta Jasa TIK bertema “AI sebagai Asisten Usaha: Kerja Lebih Ringkas, Keputusan Lebih Tepat”, sebanyak 50 peserta mendapatkan pembekalan mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung kegiatan usaha sehari-hari.
Bersama praktisi teknologi informasi, Kuntjoro Pinardi, peserta mempelajari cara memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan rutin, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengolah data sebagai dasar pengambilan keputusan. Teknologi yang selama ini kerap diasosiasikan dengan perusahaan besar dan kehidupan perkotaan itu diperkenalkan sebagai alat bantu yang juga dapat dimanfaatkan pelaku usaha di desa.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif berupaya mempertemukan kekuatan tradisi dengan keterampilan dan kebutuhan zaman. Seni pertunjukan diperkuat dari sisi kualitas dan pemasaran, ruang kreatif dikembangkan sebagai pusat aktivitas komunitas, sementara teknologi diperkenalkan untuk membantu usaha masyarakat tumbuh lebih produktif.
“Di Giyanti, kita melihat bagaimana sebuah warisan budaya bisa terus hidup karena ada orang-orang yang bersedia merawat dan mengajarkannya. Tugas kita memastikan mereka tidak berjalan sendirian. Kita ingin tradisi tetap terjaga, anak-anak muda punya kesempatan mengembangkan bakatnya, dan karya-karya dari desa memiliki jalan untuk dikenal serta memberikan penghidupan bagi masyarakatnya,” ujar Menteri Riefky.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya di kesempatan yang sama menegaskan, potensi ekonomi kreatif Indonesia tidak hanya berada di kota-kota besar. Desa memiliki kekayaan budaya, kreativitas, sumber daya manusia, dan kearifan lokal yang dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola dan dikembangkan secara berkelanjutan.
“Yang kita dorong bukan hanya supaya sebuah desa bisa menampilkan kesenian atau menghasilkan produk kreatif. Lebih dari itu, kita ingin masyarakatnya menjadi pelaku utama, anak-anak mudanya punya ruang untuk berkarya, tradisinya tetap hidup, dan yang paling penting: kreativitas itu bisa menghasilkan nilai tambah serta membuka lapangan usaha," paparnya.
Ia berharap Aktivasi Desa Kreatif dapat memperkuat kemandirian komunitas dan membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan, dengan melibatkan masyarakat, sanggar, pemerintah desa, pemerintah daerah, hingga jejaring pelaku industri kreatif.
Baca Juga: Legendaris Sejak 1965, Ini 5 Fakta Soto Kuali Mbah Sumarsono yang Tak Pernah Sepi
“Jangan sampai suatu hari kita hanya bisa menceritakan bahwa dulu Wonosobo punya bundengan, dulu ada Topeng Lengger, dan dulu anak-anak belajar gamelan. Kita ingin kesenian itu tetap dimainkan hari ini, dipelajari anak-anak esok hari, dan menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat. Kita ingin membangun mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari desa, dari daerah,” ujar Riefky.
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- 7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
Hadirkan Beautiful Nightmare, Saloka at Night Gelar Pesta Piyama Halloween Berhadiah Menarik
-
Kapolres Sukoharjo Dinonaktifkan Usai Penggeledahan Ponpes, Polri Periksa Tiga Pejabat Lain
-
Kunjungan di Wonosobo, Menteri Riefky Main Bundengan Dibimbing Sri Mulyani, Ananda Mikola Bernyanyi
-
Atasi Limbah Rumah Tangga, Pemprov Jateng Diganjar Rekor MURI Pengumpulan Minyak Jelantah Terbanyak
-
14 Tahun Mengabdi, Mantri BRI Wisnu Dampingi UMKM dari Kesulitan Modal hingga Naik Kelas