Masih Ingat Masjid Kapal 'Bahtera Nuh' ? Intip Kondisinya Saat Ramadan

Chandra Iswinarno
Masih Ingat Masjid Kapal 'Bahtera Nuh' ? Intip Kondisinya Saat Ramadan
Masjid Bahtera Nuh yang memadukan bangunan masjid dengan kapal yang berada di Kota Semarang, Jawa Tengah. [Suara.com/Adam Iyasa]

Bangunan masjid yang terinspirasi kisah keteladanan Nabi Nuh tersebut memiliki detail arsitek cukup unik percampuran antara bentuk masjid dengan bangunan kapal.

Suara.com - Dua tahun sudah Masjid Kapal atau Masjid 'Bahtera Nuh' berdiri. Masjid yang ada di di Jalan Kyai Padak, RT 5 RW 5, Kelurahan Podorejo, Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang, Jawa Tengah terlihat kondisinya masih sama seperti pada dua tahun lalu saat viral tersebar di dunia maya.

Bangunan masjid yang terinspirasi kisah keteladanan Nabi Nuh tersebut memiliki detail arsitek cukup unik percampuran antara bentuk masjid dengan bangunan kapal. Bentuk utama sebuah kapal besar, lengkap dengan jendela berbentuk bulat, buritan, haluan dan masih banyak lagi.

Bangunan itu rupanya masih menjadi daya pikat setiap orang yang melintasi jalan di depannya. Beberapa mampir untuk salat atau hanya sekedar berfoto dengan latar kapal besar itu.

Jika dulu belum ada fasilitas kantin atau warung makan, kini depan masjid sudah banyak berjejer, bahkan di dalam area halaman masjid juga tersedia kantin.

Memasuki gerbang masjid kini sudah terkena tiket masuk, tertulis Rp 3.000, untuk tiket masuk, dan Rp 2.000, untuk tiket parkir roda dua. Masjid kapal ini pun seolah menjadi destinasi wisata religi

"Kalau sore ramai dikunjungi, banyak yang ngabuburit menunggu waktu berbuka puasa," kata Penjaga Masjid Kapal Safinatul Najah, Rokhimin pada Rabu (8/5/2019).

Rokhimin menjelaskan, bangunan masjid kapal memiliki tiga lantai, panjang 50 meter, lebar 17 meter dan tinggi 14 meter. 'Kapal besar' ini memiliki luas 2.500 meter persegi, dengan multi fungsi bangunan yakni lantai pertama untuk ruang pertemuan, lantai dua untuk masjid dan lantai tiga direncanakan untuk sebuah sekolah kejuruan dan balai kerja.

"Bangun ini sebenarnya bukan masjid saja, tapi multi guna, malah paling banyak kegiatannya justru kegiatan sosial di lantai satu," ucap Rokhimin.

Masjid Bahtera Nuh di Kota Semarang kerap kali dijadikan tempat ajang swafoto. [Suara.com/Adam Iyasa]
Masjid Bahtera Nuh di Kota Semarang kerap kali dijadikan tempat ajang swafoto. [Suara.com/Adam Iyasa]

Pun saat Ramadan tahun ini, selain jujugan ngabuburit, aktivitas sosial menjadi agenda rutin setiap Minggunya. Hanya saja belum ada kegiatan ibadah Ramadan.

"Ramadan di masjid ini tidak ada penyelenggaran salat tarawih, tadarus, atau kegiatan Ramadan layaknya masjid lainnya," terangnya.

Alasannya, Masjid Kapal sendiri terletak jauh dari perkampungan ada di tengah hutan dan persawahan, juga sudah ada masjid besar di kampung sebagai pusat kegiatan ibadah Ramadan.

"Jadi kami fokus biar tempat ini bisa dipakai kegiatan sosial saja, ada pengobatan gratis setiap minggunya. Kemarin juga ada fashion show busana muslim dadi Magelang disini," jelasnya.

Rokhimin menceritakan, jika bangunan tersebut milik seorang bernama Kiai Achmad, yang berkeinginan membuat masjid tak hanya sebatas tempat ibadah namun bisa berfungsi layaknya Bahtera Nuh yang memiliki banyak fungsi ruangannya.

"Jadi sambil mengingat sejarah, untuk kembali mengajak mengingat Tuhan, dan dibuatlah masjid ini dengan fungsi bangunan lainnya di tiga lantai," katanya.

Bahkan menurut Rokhimin, pesan dari Kyai Achmad masjid tersebut beserta bangunan lainnya bisa dimanfaatkan oleh warga secara gratis seperti untuk pertemuan, hajatan, dan resepsi pernikahan.

Muwardi (55), pengunjung asal Salatiga mengaku baru pertama kali datang ke masjid kapal. Dia sempatkan salat Ashar di lantai dua masjid.

"Baru pertama, tadi lewat depan lalu pengin mampir, masjidnya bagus, unik seperti yang diberitakan viral dulu," katanya.

Area masjid pun sangat Instagramble, kaum muda banyak yang mengambil swa foto, karena latar pemandangan berupa hutan, sawah, dan jika cuaca bagus Gunung Merapi dan Ungaran akan terlihat cerah.

"Ini lokasi pelosok, tadinya saya berpikir akan serba susah menuju kesini. Tapi ternyata akses mudah dan strategis karena berada di depan jalan meski di tengah hutan dan sawah," kata Widya Sari.

Sembari ngabuburit, berfoto selfi menjadi wajib hukumnya sebagai bukti jika dia pernah berkunjung kesitu.

"Bagus tempatnya, Instagramble dan pasti jangan kalah dong sama teman-teman yang udah pernah uplod di medsos," tukasnya. 

Kontributor : Adam Iyasa

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS