“Betul, kejutannya di sini. Karena masing-masing pembuat memiliki kemampuan berbeda, sehingga menu yang disajikan tidak selalu sama,” kata Ketua Badan Kemakmuran Masjid Baiturrahim Wanasri, Hasan Matori, usai acara.
Namun demikian, rasa kebersamaan sudah tertanam pada masing-masing penyantap. Mereka akan saling berbagi, supaya bisa sama-sama menikmati menu yang diinginkan.
Tradisi Leluhur yang Mengamanatkan Pentingnya Sedekah
TRADISI menjadi warisan pendahulu yang sarat makna dan edukasi, sehingga dirasa penting untuk dilestarikan oleh penganutnya. Demikian halnya dengan tradisi murak tompo di Masjid Baiturrahim Wanasri, Desa Cingebul, Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Baca Juga:Tradisi Ngopi Sambil Menunggu Sahur Ala Warga Kota Gresik
Imam Masjid Baiturrahim Wanasri, Sungeb Asy’ari, mengaku tidak tahu persis sejak kapan tradisi itu dimulai. Tidak adanya dokumentasi apalagi pembukuan, membuat warisan leluhur itu sulit untuk digali sejarahnya.
Namun yang pasti, tradisi itu sudah berjalan dari generasi ke generasi. Saat ia menanyakan kepada orang tua, jawabnnya sudah ada sejak kecil. Demikian halnya ketika orang tuanya menanyakan kepada orang tuanya lagi, jawabannya serupa.
“Untuk memastikan kapan tradisi ini dimulai, tentu sulit. Namun terpenting, tradisi ini terus dilestarikan, karena mengandung banyak makna,” kata Sungeb Asy’ari, ditemui usai acara.
Satu makna paling menonjol, lanjut Sungeb pada amanat bersedekah dan mementingkan kebersamaan.
“Bulan Ramadan itu begitu istimewa, dengan beragam keutamaan. Bila kita beribadah maupun sedekah, Allah menjanjikan pahala berlipat ganda. Inilah yang saya kira menjadikan tradisi ini penting untuk dilestarikan,” kata dia.
Baca Juga:Pulang Basamo, Tradisi Mudik Bareng dengan Ribuan Mobil
Kemudian dari cara menyantap menu, menurutnya mengajarkan pada pentingnya kebersamaan dan kerukuran. Karena dalam pelaksanaannya disamakan antara satu dan lainnya, dari tua hingga yang muda.