Dalam Enam Menit, Nur Hanifah Lahirkan Tiga Bayi Kembar

Chandra Iswinarno
Dalam Enam Menit, Nur Hanifah Lahirkan Tiga Bayi Kembar
Bayi kembar tiga lahir dalam waktu enam menit di Cilacap. [Suara.com/Teguh Lumbiria]

Proses persalinannya relatif cepat, karena jedanya hanya berkisar enam menit.

Suara.com - Pasangan suami istri asal Desa Bulusari Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Dwi Nur Hanifah (34) dengan Bustamyajid (43) tengah merasakan kebahagiaan tak terkira. Pasangan yang sama-sama berprofesi sebagai tenaga pendidik ini baru saja dikaruniai tiga anak kembar laki-laki.

Dwi Nur Hanifah melahirkan tiga anak secara normal di RSUD Majenang, pada Sabtu (14/9/2019) pada pukul 11.45 WIB. Proses persalinannya relatif cepat, karena jedanya hanya berkisar enam menit.

Dwi mengaku sudah mengetahui akan melahirkan anak kembar sejak usia dua bulan kehamilan, hasil pemeriksaan di klinik Sidareja.

“Waktu masih hamil dua bulan ketahuan kembar dua. Waktu tiga bulan ketahuan tiga,” kata Dwi ditemui Suara.com di RSUD Majenang, Minggu (15/9/2019).

Awalnya, Dwi sempat kaget dan ada kekhawatiran. Karena pengalaman dua kali melahirkan sebelumnya tidak pernah kembar. Apalagi ketika mengacu pada orang tua, baik dari keturunan ayah atau ibu, tidak satupun yang pernah melahirkan bayi kembar.

Sebelumnya, Dwi sudah punya dua anak dan dua kali persalinan. Anak pertama namanya Adam (12), dan anak kedua Ibrohim (8).

“Jadi ini anak ketiga, keempat dan kelima. Kebetulan semuanya laki-laki,” kata dia.

Dwi pun merasakan perbedaan yang cukup kentara, di tengah kehamilan anak kembar. Saat hamil anak pertama dan kedua, ia lebih leluasa dalam beraktivitas.

“Kalau yang kemarin (hamil kembar) lebih repot, terutama buat jalan,” kata guru di sebuah lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di desanya ini.

Selain itu, bobot badan Dwi terasa lebih berat. Bahkan dibanding hamil sebelumnya, itu lebih berat dan sampai bengkak.

“Tadinya sempat khawatir, tapi kemudian mantap melahirkan normal. Apalagi dokter menyatakan saya dan bayi sehat dan diperbolehkan lahir normal,” kata dia.

Kekhawatiran juga dirasakan suami Dwi, Bustamyajid. Karena dalam masa kehamilan, Dwi lebih repot dan susah walau hanya untuk berjalan.

“Selama mengandung memang (Dwi) jalannya susah, bobot lebih berat jadi memang butuh perhatian lebih dari saya,” kata Bustamyajid yang berprofesi sebagai guru MI Maarif Gandrungmangu tersebut.

Namun demikian, ia tidak pernah mendapatkan keluhan berlebih dari istrinya. Bahkan, meskipun tengah hamil kembar, Dwi tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang guru.

“Sehari-hari tetap ngajar, walaupun lebih santai,” kata Bustamyajid mengaku terharu.

Kekhawatiran itu kemudian berubah menjadi kebahagiaan tak terkira. Karena selama proses persalinan lancar dan tidak mengalami kesulitan.

“Alhamdulillah persalinan lancar. Termasuknya lebih cepet sekarang (dibandingkan persalinan anak pertama dan kedua,” kata dia.

Keduanya berkomitmen akan merawat ketiga bayi kembar secara maksimal. Karena baginya, anak merupakan anugerah.

“Ini menjadi anugerah buat kami, jadi rejeki nomplok, karena bagi kami, anak adalah anugerah,” kata keduanya.

Untuk memaksimalkan perawatan, Bustamyajid berencana menyiapkan seorang pengasuh.

“Ketiganya tetap kami yang merawat. Tapi yang jelas nanti butuh orang buat bantu merawat, karena pastinya lebih repot. Biar bayi sehat, ibu juga sehat,” katanya.

Sampai saat ini, untuk nama ketiga anaknya belum disiapkan khusus. Ia akan membuatkan nama yang mirip.

“Tapi sejauh ini belum konsentrasi ke situ. Fokus dulu ke perawatan istri dan bayi di sini,” kata dia.

Kontributor : Teguh Lumbiria

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS