alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Nekat! Relawan Naik Gunung Merapi demi Mitigasi

Ari Syahril Ramadhan | Hiskia Andika Weadcaksana Minggu, 29 November 2020 | 17:21 WIB

Nekat! Relawan Naik Gunung Merapi demi Mitigasi
Gunung Merapi terlihat jelas dari kawasan Cangkringan, Sleman, Rabu (18/11/2020). - (SuaraJogja.id/Hiskia Andika)

Menyayangkan kegiatan yang dilakukan seorang relawan walaupun dengan alasan misi mitigasi tersebut.

SuaraJawaTengah.id - Relwan nekat melakukan pendakian ke puncak Gunung Merapi demi upaya mitigasi. Padahal saat ini,  status gunung itu sudah berada di level III atau Siaga.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyoroti kegiatan relawan yang masih nekat melakukan pendakian ke puncak Gunung Merapi ini. Pasalnya, hingga saat ini status Gunung Merapi, yaitu Siaga atau level III, menjadikan kegiatan tersebut sangat berbahaya dan tidak dianjurkan.

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Agus Budi Santoso tetap menyayangkan kegiatan yang dilakukan seorang relawan walaupun dengan alasan misi mitigasi tersebut. Menurutnya, selain dapat membahayakan keselamatan diri, secara tidak langsung aktivitas itu juga menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

“Jumat (27/11/2020) kemarin memang banyak laporan yang masuk, tentang relawan yang naik ke puncak Merapi lalu diunggah di media sosial. Kami sangat tidak menyarankan ada misi apa pun meskipun itu alasan mitigasi, ke puncak Gunung Merapi," ujar Agus saat dikonfirmasi awak media, Minggu (29/11/2020).

Baca Juga: Satwa Liar Merapi Turun, TNGM: Diganggu Saja Tak Boleh, apalagi Ditangkap

Sebelumnya diketahui, beberapa video yang diunggah akun Instagram @laharbara dari puncak Merapi terus mendapat banyak perhatian warganet. Selain memperlihatkan longsoran di dekat kawah puncak Merapi, ada juga video yang menunjukkan rusaknya stasiun pemantauan.

Menanggapi hal tersebut, Agus tidak mengelak bahwa memang ada alat atau stasiun pemantauan yang rusak.

Meski belum diketahui persis kapan stasiun tersebut rusak, tetapi BPPTKG meyakini tidak akan terlalu menggangu perkembangan informasi terkini.

”Memang benar stasiun pemantauan yang ada di puncak rusak akibat lontaran erupsi yang kita juga tidak tahu persis kapan itu terjadi. Namun tidak perlu khawatir, alat substitusi mulai dari drone hingga satelit sudah dioperasikan," ungkapnya.

Agus menuturkan, saat ini kondisi tebing kawah Merapi masih sangat tidak stabil. Hal itu terlihat dari data yang telah dicatat BPPTKG.

Baca Juga: Terkena Material Gunung Merapi, Stasiun Pemantauan BPPTKG Rusak Parah

Ditambah lagi, kejadian guguran dinding kawah di lava 1954 dalam beberapa waktu lalu. Menurutnya, guguran itu menjadi salah satu yang terbilang bervolume sangat besar sebab hingga mengubah morfologi puncak Merapi.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait