"Kalau pas rob di sini tenggelam semua. Tak ada yang kelihatan nisannya," ujar dia.
Jika warga yang akan berziarah harus menggunakan perahu kecil untuk mencapai lokasi makam. Sebagian warga ada yang sengaja menancapkan bilah bambu sebagai penanda makam sanak saudaranya.
Dengan demikian saat rob muncul tidak sulit mencari makam untuk diziarahi.
"Tancapkan bilah bambu yang diberi nama. Gunanya kalau saat ziarah bersamaan dengan rob. Tanda makamnya ya bilah bambu itu. Tapi kadang bilah bambunya hilang kalau nggak kuat diterjang ombak," katanya.
Baca Juga:Antisipasi Hujan Abu Merapi, Candi Asu dan Candi Pendem Ditutup Plastik
Jika dilihat, bekas sisa-sisa kehidupan di tempat tersebut masih ada, seperti bangunan pom pertamina dan Tempat Penampungan Ikan (TPI) juga masih terlihat atapnya.
Menurut Sabar, dulunya TPI tersebut merupakan pusat penampungan ikan di daerah Tambakrejo. Sebelum rob, tempat tersebut selalu ramai karena langsung berdekatan dengan bibir laut.
Sementara, pom pertamina tersebut disediakan digunakan untuk mengisi bahan bakar kapal dan bahan bakar kendaraan umum yang ada di sekitar TPI.
“Sudah banyak yang berubah. Bahkan di sini dulu sangat ramai. Dulu mobil truck bisa lewat sini. Wong jalannya itu lebarnya 12 meter kok,” jelasnya sembari menuding bekas jalan yang sudah hilang.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memeprkirakan, beberapa kawasan pesisir akan naik 25 hingga 50 cm pada tahun 2050 dan 2100.
Baca Juga:Berada di Lereng Merapi, Boyolali akan Memiliki Stadion Berstandar FIFA
Berdasarkan riset LIPI, perubahan iklim global menjadi ancaman serius bagi warga kawasan pesisir. Salah satunya adalah Kota Semarang.