Wacana Impor Beras Bikin Harga Gabah Anjlok, Petani Kudus Terancam Merugi

Wacana impor beras membuat harga gabah turun

Budi Arista Romadhoni
Minggu, 04 April 2021 | 13:40 WIB
Wacana Impor Beras Bikin Harga Gabah Anjlok, Petani Kudus Terancam Merugi
Ilustrasi wacana impor beras membuat harga gabah anjlog. (Dok: Kementan)

SuaraJawaTengah.id - Wacana impor beras dari pemerintah pusat membuat para petani kebingungan. Sebab, harga gabah langsung anjlok. 

Petani pun siap-siap menanggung kerugian akibat wacana impor beras. Kebijakan itu memberikan sentimen negatif terhadap harga jual gabah di pasaran  

"Gara-gara muncul wacana impor beras, banyak penebas padi yang memanfaatkan momen tersebut dengan menawar gabah petani dengan harga di bawah rata-rata harga jual di pasaran dengan pertimbangan khawatir terjadi impor beras," kata Ketua KTNA Kabupaten Kudus Hadi Sucahyono dilansir dari ANTARA di Kudus, Minggu (4/4/2021).

Alasan penebas, kata dia, memang masuk akal karena beras yang dibeli ketika tidak bisa langsung terjual habis, kebetulan muncul beras impor di pasaran tentunya harga jualnya juga akan turun sehingga bisa merugikan. Akibatnya, petani yang sangat dirugikan karena tidak bisa mendapatkan keuntungan, sedangkan pedagang masih bisa tetap untung.

Baca Juga:Tolak Rencana Impor Beras, Mahasiswa Banyuwangi Demo di Depan Gedung DPRD

Harga jual gabah kering panen di pasaran, kata dia, berkisar Rp3.300 per kilogram, sedangkan normalnya bisa mencapai Rp4.500 hingga Rp4.600/kg.

Menurut dia dengan harga jual gabah sebesar Rp3.300 petani memang belum untung, karena bisa disebut hanya balik modal mengingat biaya produksi per hektare berkisar Rp8 juta, belum termasuk biaya sewa bagi petani yang lahannya menyewa.

"Jika dihitung secara matematis, memang ada selisih biaya dari penjualan dalam 1 hektare tanaman padi bisa mendapatkan uang hingga Rp19,8 juta. Akan tetapi, biaya produksi selama empat bulan tersebut belum termasuk biaya tenaga petani sendiri yang mengolah lahan," ujarnya.

Idealnya, kata dia, harga jual gabah yang bisa menguntungkan petani berkisar Rp4.000 hingga Rp4.600/kg. Untuk itulah, wacana impor beras di saat musim panen perlu dihindari agar tidak menimbulkan sentimen negatif karena petani yang dirugikan.

Untuk saat ini, katanya, petani mulai tertarik menanam padi khusus, seperti ketan, beras organik maupun beras merah yang tidak begitu terpengaruh secara signifikan dengan wacana impor beras, sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan petani.

Baca Juga:BPBD Kudus Imbau Msyarakat Waspadai Angin Puting Beliung

Kasi Fasilitasi Perdagangan Dinas Perdagangan Kudus Teddy Hermawan menambahkan wacana beras impor memang memberikan sentimen negatif terhadap harga jual gabah karena penebas juga bisa mempermainkan harga jual di pasaran dengan alasan akan ada beras impor.

Padahal, kata dia, harga jual beras di pasaran cenderung stabil, sedangkan harga gabah justru cenderung turun saat musim panen pertama ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak