- Fenomena embun upas kembali muncul di Dataran Tinggi Dieng akibat pengaruh Monsun Australia selama musim kemarau tahun ini.
- BMKG memperingatkan wisatawan bahwa suhu udara di Dieng dapat turun hingga di bawah nol derajat Celsius sejak Juli.
- Wisatawan diimbau menyiapkan perlengkapan hangat agar terhindar dari risiko gangguan kesehatan akibat paparan suhu ekstrem yang sangat dingin.
SuaraJawaTengah.id - Fenomena embun beku atau embun upas kembali menyelimuti Dataran Tinggi Dieng pada musim kemarau tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan wisatawan yang berlibur ke kawasan tersebut selama Juli hingga September agar tidak hanya datang untuk berburu keindahan embun es, tetapi juga mewaspadai suhu udara yang dapat turun hingga di bawah nol derajat Celsius.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Semarang Yoga Sambodo mengatakan wisatawan perlu mempersiapkan perlengkapan khusus untuk menghadapi udara ekstrem dingin di Dieng, seperti jaket tebal, sarung tangan, penutup kepala, dan kaus kaki agar terhindar dari risiko gangguan kesehatan akibat paparan suhu rendah.
"Pengunjung yang datang pada periode Juni hingga September sebaiknya menyesuaikan perlengkapan dengan kondisi cuaca di Dieng karena suhu udara dapat turun hingga di bawah nol derajat Celsius," katanya di Semarang, Kamis.
Menurut Yoga, suhu ekstrem tersebut memicu terbentuknya embun upas atau embun beku, yakni lapisan kristal es tipis yang menempel di permukaan rumput dan tanaman saat dini hari. Fenomena ini menjadi daya tarik wisata musiman yang selalu diburu wisatawan setiap musim kemarau.
Baca Juga:Pesona Magis Ruwatan Rambut Gimbal Dieng, Ribuan Wisatawan Terpukau di Puncak DCF 2025
BMKG memprakirakan intensitas embun upas akan semakin sering terjadi dan mencapai puncaknya pada Agustus 2026.
![Hamparan embun beku atau embun upas menyelimuti Dataran Tinggi Dieng, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Kamis (9/7/2026) pagi. [ANTARA/HO-UPTD Dieng]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/09/96064-embun-es-dieng.jpg)
Secara ilmiah, Yoga menjelaskan fenomena itu dipengaruhi aktifnya Monsun Australia yang membawa massa udara kering ke Indonesia selama musim kemarau. Minimnya tutupan awan membuat panas matahari terasa menyengat pada siang hari, namun pada malam hari panas dari permukaan bumi lepas secara maksimal ke atmosfer sehingga suhu turun drastis.
Selain itu, kelembapan udara di kawasan pegunungan seperti Dieng yang tetap tinggi turut mendukung terbentuknya kristal es ketika suhu mencapai titik beku.
BMKG mengimbau wisatawan untuk tidak menganggap fenomena embun upas sekadar objek wisata, melainkan tetap memperhatikan kondisi cuaca dan menjaga kesehatan selama berada di kawasan dataran tinggi tersebut. Dengan persiapan yang memadai, wisatawan dapat menikmati fenomena alam langka itu dengan aman dan nyaman.
Baca Juga:Goodbye Jazz Atas Awan! Dieng Culture Festival 2025 Pilih Kembali ke Akar Budaya