facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Omzet Turun, Rumah Makan di Pekalongan Ini Justru Bantu Makanan Warga yang Isolasi Mandiri

Ronald Seger Prabowo Rabu, 14 Juli 2021 | 14:51 WIB

Omzet Turun, Rumah Makan di Pekalongan Ini Justru Bantu Makanan Warga yang Isolasi Mandiri
Seorang pengemudi ojek online bersiap mengantar paket makanan yang akan dikirim Raja Ampat Resto untuk membantu warga yang isolasi mandiri. [Istimewa]

Setiap hari, rumah makan Syadhali membagikan gratis ratusan porsi makanan.

SuaraJawaTengah.id - ‎Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama satu tahun lebih menghantam banyak sektor usaha, termasuk usaha rumah makan.

Hal itu juga dialami oleh seorang pemilik Raja Ampat Resto Kota Pekalongan, Mochammad Syadhali (31).‎ Selama wabah corona melanda, omzet rumah makan sea food yang terletak di Jalan Binagriya Raya 1 Kelurahan Medono, Kecamatan Pekalongan Barat ini anjlok hingga 80 persen.

Namun di tengah kondisi sulit yang sedang dialami usahanya itu, Syadhali justru mengerahkan sumber daya yang dimilikinya untuk membantu sesama.

Setiap hari, rumah makan Syadhali membagikan gratis ratusan porsi makanan untuk warga Kota Pekalongan yang sedang menjalani isolasi mandiri karena positif Covid-19.

Baca Juga: Agar Pasien Isolasi Mandiri Tetap Aman, Ini Hal yang Mesti Diperhatikan

Aksi kepedulian Syadhali ‎itu sudah berlangsung sejak 10 Juli 2021. Bermula dari adanya salah satu anggota keluarganya yang terpapar Covid-19.

Keluarga lain kemudian bergantian mengirimkan makanan dan kebutuhan lain selama anggota keluarga tersebut isolasi mandiri (isoman).

"Karena kita mampu kita bisa. ‎Kemudian kita mikir, kalau yang isoman warga yang kurang mampu itu bagaimana nasibnya. Kita saja panik, beli ini beli itu, harus makan ini makan itu, kan tidak murah. Dari situ tercetus ide, kenapa kita tidak bagi-bagi makanan untuk yang isoman," ujar Syadhali Rabu (14/7/2021).


Sejak dijalankan, setiap hari sekitar 150 - 200 porsi makanan yang dibuat di rumah makan Syadhali dibagikan untuk warga yang sedang menjalani isolasi mandiri. Pembagian makanan itu dilakukan dua kali, yakni siang dan malam.

‎"Kalau yang lokasinya jauh kita pakai Go Send, atau Grab Ekspres. Kalau tidak ada biaya untuk Go Send, atau Grab Ekspres, boleh diambil oleh keluarganya atau aparat setempat. Terus kalau yang tinggalnya di daerah sekitar sini kita antar. Tapi kalau anter prosesnya agak lama karena keterbatasan karyawan‎," ungkapnya.

Baca Juga: Curhatan Relawan Pemakaman di Salatiga, APD Beli Sendiri hingga Harus Tidur di Kuburan

Setelah berjalan beberapa hari, tak disangka pembagian makanan yang dilakukan Syadhali‎ viral di media sosial dan pesan berantai di WhatsApp. Hal ini membuat Syadhali dihubungi banyak orang, termasuk kelurahan dan kepolisian.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait