Kisah Petani di Banyumas, Gunakan Metode Hazton untuk dapatkan Hasil Panen Padi yang Lebih Banyak

Metode Hazton memberikan keuntungan tersendiri daripada dengan yang konvensional

Budi Arista Romadhoni
Senin, 16 Mei 2022 | 19:20 WIB
Kisah Petani di Banyumas, Gunakan Metode Hazton untuk dapatkan Hasil Panen Padi yang Lebih Banyak
Aktvitas penanaman bibit padi dengan metode Hazton pada lahan sawah milik Subur Raharjo di Desa Pegalongan, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Senin (16/5/2022). [ANTARA/Sumarwoto]

Padahal dengan sistem jajar legowo, kata dia, sangat memudahkan perawatan terutama untuk menyiangi, penyemprotan, serta mengontrol posisi organisme pengganggu tanaman (OPT) yang ada di tengah sawah.

"Ini memudahkan sekali. Selain itu, tanaman padi yang letaknya dekat pematang, hasilnya pasti lebih bagus karena mendapatkan sinar matahari yang cukup, seperti halnya sistem jajar legowo 2:1 di mana legowo-nya itu memberikan cukup ruang untuk masuknya sinar matahari," katanya.

Subur mengakui biaya sewa lahan sawah saat sekarang tergolong mahal karena untuk sawah seluas 700 meter persegi sekitar Rp400 ribu per musim tanam, sehingga buruh tani tidak pernah memikirkan hasil melainkan hanya menumpang makan.

Dengan demikian, kata dia, orang yang tidak punya uang pasti tidak bisa sewa lahan, sehingga buruh tani tetap akan menjadi buruh tani karena tidak mampu untuk membayar sewa lahan.

Baca Juga:Hingga Malam Ini, Arus Balik di Ruas Ajibarang-Bumiayu Terpantau Ramai Lancar

"Kalaupun bisa sewa lahan, hasilnya tidak bisa untuk menutup uang sewa selama menggunakan metode tanam konvensional, sehingga diperkenalkan dengan metode Hazton agar hasil panen lebih banyak," katanya.

Akan tetapi untuk mengubah pemahaman dari metode tanam konvensional ke metode Hazton, kata dia, tidaklah mudah karena faktor utama yang mempengaruhi adalah permasalahan ekonomi.

Metode Hazton dapat diartikan sebagai cara bertanam padi dengan menggunakan bibit tua yang berumur 25-35 hari setelah semai dengan jumlah bibit padat,  yaitu 20-30 bibit per lubang tanam.

Metode tersebut merupakan hasil pemikiran Ir. Hazairin, M.S. yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat, serta Anton Kamaruddin, S.P., M.Si. sebagai Kepala Seksi Tanaman Pangan dan Buah-Buahan. [ANTARA]

Baca Juga:H+4 Lebaran, Arus Kendaraan di Jalur Selatan Jateng Ramai Lancar

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini