facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Jus Jambu Disebut Bisa Sembuhkan Pasien DBD, Mitos atau Fakta?

Budi Arista Romadhoni Jum'at, 01 Juli 2022 | 11:00 WIB

Jus Jambu Disebut Bisa Sembuhkan Pasien DBD, Mitos atau Fakta?
Ilustrasi jus jambu. Banyak orang percaya bahwa meminum jus jambu ampuh menaikkan kadar trombosit yang turun akibat penyakit DBD. (Sumber: Shutterstock)

Banyak orang percaya bahwa meminum jus jambu ampuh menaikkan kadar trombosit yang turun akibat penyakit DBD

SuaraJawaTengah.id - Saat menderita sakit demam berdarah dengue (DBD), banyak orang percaya bahwa meminum jus jambu ampuh menaikkan kadar trombosit yang turun akibat penyakit tersebut.

Kendati demikian, Staf Divisi Tropik Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM dr. Adityo Susilo, Sp.PD-KPTI. FINASIM mengatakan jus jambu tidak dapat mengubah perjalanan penyakit DBD.

"Jus jambu, unfortunately, berdasarkan hasil penelitian-penelitian yang ada itu tidak dapat mengubah perjalanan penyakit," kata Adityo dikutip dari ANTARA pada Jumat (1/7/2022).

Adityo menjelaskan, naik turunnya trombosit saat DBD merupakan proses yang terjadi secara alami sesuai perjalanan penyakitnya.

Baca Juga: Kenali Gejala Demam Berdarah Dengue, Begini Cara Penanganan DBD yang Tepat

Tapi setidaknya, kata dia, saat pasien meminum jus jambu, dia telah berusaha memenuhi kebutuhan cairan. Pasalnya, pada penderita DBD, plasma darah yang mengandung air dan nutrisi akan bocor sehingga isinya keluar dari pembuluh darah ke jaringan lain.

"Dengan mau minum, paling tidak Anda memenuhi kebutuhan cairan. Jadi sangat-sangat dipersilahkan untuk minum," ujar Adityo.

Turunnya kadar trombosit memang sering kali dialami oleh pasien yang sakit DBD. Adityo mengatakan, hal tersebut karena trombosit akan banyak terpakai untuk menyumbat daerah-daerah endotel (sel di pembuluh darah) yang mengalami pelebaran karena radang akibat virus dengue. Semakin berat peradangannya, maka semakin banyak pula trombosit yang akan terpakai.

Saat seseorang terkena DBD, Adityo mengatakan dia harus dipantau ketat terutama saat dia sedang berada dalam fase kritis, yaitu saat demam sudah menurun.

Umumnya, lanjut dia, dokter akan memastikan bahwa kebutuhan cairan di pembuluh darah pasien selalu cukup. Jika tidak, maka risiko syok akan terjadi.

Baca Juga: 868 Kasus DBD Terjadi di Bandar Lampung di Semester I 2022

"Kalau dia masih bisa minum dan makan dengan baik, lambungnya enggak terlalu sakit, silakan minum. Tapi kalau enggak ya semampunya atau kalau sudah dirawat di rumah sakit, akan diinfus," ujar Adityo.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait