Diceritakannya, sebulan penuh para relawan PMI menjalin latihan berat, baik fisik hingga mental di RS Purwodadi Jawa Tengah.
Usai mendapatkan latihan khusus, Soetinah diterjunkan di Medan pertempuran sebagai pasukan cadangan dalam peperangan.
Tugas Soetinah dan relawan PMI lainnya untuk memberikan pengobatan dan perawatan terhadap prajurit yang terluka.
Keluar masuk hutan, suara tembakan hingga melihat pejuang gugur di Medan laga, menjadi makanan Soetinah saat menjalankan tugasnya.
Baca Juga:Selain Bung Karno, Siapa Saja Tokoh Proklamasi Kemerdekaan RI?
"Tugas saya saat itu cukup berat dan usai saya waktu itu masih sangat muda. Namun kerena tugas dan semangat untuk mempertahankan kemerdekaan, saya tetap berjuang sebaik mungkin dalam tugas," terangnya.
Soetinah juga masih mengingat, banyaknya pejuang yang ia rawat setiap hari.
Perawatan yang ia lakukan juga tak mengenal waktu, tak jarang ia tak tidur beberapa hari hanya untuk memberikan perawatan untuk pejuang yang terluka.
"Kadang saya merawat lima penjuang dalam sehari, karena situasi saat itu bergejolak fokus para relawan untuk memulihkan kondisi pasukan yang terluka. Jadi jarang tidur saat malam hari," paparnya.
Pergolakan perang ketika Soetinah bertugas membuatnya acapkali berpindah lokasi lantaran mengikuti pergerakan para pejuang.
Baca Juga:Jalan Sehat Hingga Seminar UMKM, Siap Meriahkan HUT RI di Desa Tanjungsari
"Bersembunyi di hutan sering kali saya lakukan bersama pejuang lainnya. Lokasinya juga tak menentu. Beberapa kali pasukan gerilya menyerbu wilayah Gubug Grobogan, lalu ke Demak, Kudus, Lasem sampai Juwana. Kami relawan PMI juga mengikuti pasukan itu," kata Soetinah.