"Jadi yang berkaitan disebut pondok pesrantren itu kami belum mendapatkan informasi dengan pihak terkait. Dari Kemenag juga belum ada izin," kata dia.
Ia hanya mengetahui adanya katifitas belajar mengaji dan asrama untuk anak laki-laki. Sedangkan untuk kegiatan belajar mengajar, dirinya tidak mengetahui secara pasti.
"Yang saya tahu itu untuk kegiatan TPQ dan asrama untuk tempat menginap. Sedangkan untuk kegiatan belajarnya saya belum tahu. Karena itupun saya sholat di Masjid kemudian ketemu sama anak-anak disana," jelasnya.
Sementara untuk nama yayasan, Eko mengetahui dari tulisan papan nama yang saat ini sudah dihilangkan.
Baca Juga:Dicap Radikal oleh Singapura, UAS Tunjukkan Bukti Hubungannya dengan Tetangga Non Muslim
"Kalau dari tulisan papan namanya itu yayasan El-Wavi," kata dia.
Eko menyebut, di yayasan tersebut terdapat sekitar 30-40 anak laki-laki yang tinggal di asrama. Hanya saja, saat ini mereka sudah dipindahkan ke gedung lain.
"Ada sekitar 30-40 an anak yang tinggal disitu, itu mengontrak rumah. Sudah dipindahkan sejak adanya kasus," jelasnya.
Anak-anak yang tinggal di asrama yayasan tersebut sebagian besar berasal dari luar desa dan luar daerah.
"Rata-rata dari luar daerah, seperti Purwokerto dan lainnya. Kalaupun ada dari Kabupaten Banjarnegara, itu tidak ada anak yang dari desa sini (Banjarmangu)," ungkapnya.
Baca Juga:Dicap Radikal Oleh Pemerintah Singapura, UAS: Tonton Saja Video A-Z, Jangan Tonton Potongan
Atas kejadian ini, pihaknya menyangkan. Ia juga prihatin atas kejadian yang menimpa korban.