"Rika nek butuh kerja ya aja nang kene. Mbok ngerti iki lagi diperjuangna. Mbok ya aja kaya ngene lah wong iki li tanahe dewek, (Kamu kalau butuh kerja ya jangan disini. Kan tahu ini sedang diperjuangkan. Ya jangan begini dong, kan ini tanahnya kita)," kata Rizal ketika menemukan sanak saudara yang didapati masuk rekrutmen sebagai pekerja perkebunan PT Geo Dipa Energi.
"Ayo wis dewek metu bae, (ayo sudah kita keluar saja)," ajak para warga kepada para pekerja.
Saling rangkul, semua keluar dari area. Tapi apalah daya, para pekerja yang masuk rekruitmen seakan kepalang basah sebab sudah tanda tangan kontrak.
Masyarakat Dieng memiliki tradisi untuk mensyukuri hasil alam yang melimpah. Namun dengan kondisi seperti saat ini, tradisi tersebut terancam punah.
Baca Juga:Pemerintah Berencana Bangun Pembangkit Geothermal dan Nuklir untuk Capai Target Net Zero Emission
"Ada tradisi syukuran atas anugrah alam subur dan hasil bumi yang melimpah, ketika ada pengeboran otomatis itu akan hilang. Banyak sesepuh yang bilang, ketika mata air rusak maka peradaban akan hilang. Karena air sumber kehidupan," jelasnya.
Masyarakat meyakini, kondisi alam saat ini merupakan dampak panjang dari adanya aktifitas geothermal sejak awal pembangunan.
Dieng adalah salah satu daerah dengan patahan tektonik terbanyak. Tanpa ada pengeboran masyarakat sudah terancam.
Geodipa tidak hanya berencana mengembangkan unit 2 saja, tapi masih ada seterusnya.
"Artinya, 113 ribu hektar wilayah Dieng terancam dieksploitasi," kata dia.
Baca Juga:PGE dan ORMAT Kolaborasi Kembangkan Teknologi Binary
"Namun apa yang bisa dinegokan dari sebuah nyawa? Apa solusinya ? Mereka tidak ada jalan keluarnya yang bisa menjamin nyawa kami," tandasnya.
Mediasi Berujung Kekerasan
Hari bergulir. Poster penolakan PLTP Dieng masih bertengger ditepi sepanjang jalan.
Tibalah saat agenda pertemuan antar Desa Karangtengah dengan PT Geo Dipa dan PJ Bupati serta pihak terkait.
Desas-desus yang beredar, masyarakat Desa Karangtengah sebagian sudah setuju. Hal itu memancing kepanikan sebagian warga kubu kontra.
Masyarakat Desa Bakal yang saat itu tak diundangpun akhirnya tergugah untuk turut hadir.