Masyarakat Bakal ingin menyampaikan suara pada kesempatan tersebut. Sebab, masyarakat Bakal juga turut merasakan dampak dari projek PLTP.
Sehingga, masyarakat Bakal merasa punya hak untuk menyampaikan pendapatnya.
Agenda mediasipun dimulai normal. Namun ketika masyarakat Bakal datang dengan membawa poster penolakan, kericuhan terjadi.
Berawal dari adu mulut lantaran tamu tak diundang hingga berujung kekerasan.
Baca Juga:Pemerintah Berencana Bangun Pembangkit Geothermal dan Nuklir untuk Capai Target Net Zero Emission
"Gedebuk!"
Seseorang terjatuh lalu terinjak.
Sontak warga lainnya tak terima. Makin tak terkendali.
"Woi, woi !," teriakan para warga lainnya saat melihat ada pukulan lain.
Dafiq adalah salah satu korban yang menyebut telah terjatuh ,terinjak dan dipukul oleh pihak lawan.
Baca Juga:PGE dan ORMAT Kolaborasi Kembangkan Teknologi Binary
![Aksi warga menolak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Dieng Unit 2 berakhir ricuh, Senin (24/10/2022). [Sura.com/Citra Ningsih]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/10/24/67088-dieng.jpg)
Tanpa mengenakan alas kaki karena hilang, ia berhasil keluar dari kerumunan. Namun suasana masih memanas.
"Entah siapa, tapi yang jelas mereka bukan pihak kami. Karena kami sudah pakai atribut khusus," jelas Dafiq sambil menunjukkan luka yang sedikit lebam.
"Ini sama ini, tapi yang keinjak nggak kliatan bekasnya," ungkap Dafiq kepada warga lainnya.
Aparat kepolisian dan TNI yang di lokasi kewalahan melerai kericuhan yang terjadi di balaidesa Karangtengah, Senin (24/10/2022).
Agenda mediasi terhenti. Pihak Bupati dengan PT Geo Dipa memutuskan mengadakan rapat kecil.
Malam hari, suasana sedikit mereda. Bupati mengumumkan putusannya dihadapan warga di tempat yang sama.