“Ya namanya adik. Tadi saya dimintakan memberikan sambutan (serah terima jenazah di Banjarnegara) ya brebes mili. Nahan tangis itu ya nggak kuat,” ujar Edi yang matanya tampak sembab dan lelah.
Masalah Ekonomi
Edi mengaku dekat dengan Theresia Dewi. Mereka berdua -juga Okta Abrianto- sering menggarap bersama proyek-proyek milik pemerintah.
Saat awal diketahui menghilang November 2021, Theresia dan Okta diduga berangkat ke Banjarnegera untuk keperluan menggarap proyek.
Baca Juga:Polisi Identifikasi Empat Jenazah Korban Dukun di Banjarnegara, Ini Hasilnya
Tapi kata Slamet, saat itu kondisi masih pandemi sehingga tidak ada garapan proyek pembangunan.
“Itu pas nggak ada proyek kok. Tahun 2021 itu nggak ada proyek. Apalagi itu sudah November. Sudah nggak ada proyek.”
Masa itu hampir semua kontraktor mengalami paceklik. Slamet sendiri 3 tahun tidak menggarap proyek yang mengharuskannya banting setir membuka usaha angkringan.
“Saya sudah 3 tahun nggak ada proyek. Terus jualan angkringan. Nggak punya kerjaan istri saya memutuskan buka angkringan,” ujar Slamet.
Dia mengaku tidak mengetahui apakah alasan adik dan ponakannya ke Banjarnegara karena terjepit masalah keuangan. “Kalau masalah pribadi kami nggak tahu. Kalau masalah pekerjaan kan saya dapat, sana dapat. Masing-masing to.”
Baca Juga:Polisi Periksa 11 Saksi Kasus Pembunuhan Berencana Dukun Slamet
Jenazah Theresia Dewi dan Okta Abrianto dimakamkan di liang bersebelahan di Blok D, tempat pemakaman umum (TPU) Giri Darmoloyo, Kota Magelang. Tidak ada lagi tanda tanya keluarga, kemana keduanya pergi selama lebih dari setahun belakangan.