Namun, pemerintahan Pangeran Mangkubumi yang berpusat di Banaran tersebut tidak memiliki izin VOC. Dari situlah berbagai polemik terjadi, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Mangkunegara justru berselisih paham dan berujung konflik hingga pertempuran.
Konflik itu bermula dari pertempuran melawan Adipati Ponorogo, Raden Adipati Suradiningrat dan diperkeruh dengan pembagian harta rampasan perang yang dinilai tidak utuh.
Jadi, selama 16 tahun R.M. Said melawan kekuasaan Mataram dan VOC. Pada tahun 1741-1742, RM. Said memimpin laskar Tionghoa melawan Belanda. Kemudian pada tahun 1743-1752 ia bergabung dengan Pangeran Mangkubumi melawan Mataram dan Belanda.
Sisanya, pada tahun 1757 ia seorang diri melawan VOC dan Mataram yang sudah terpecah menjadi dua bagian dalam Perjanjian Giyanti, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Baca Juga:Pernikahan Kaesang dan Erina Gudono Bawa Berkah Bagi Sebagian Masyarakat Kecil
Perjanjian tersebut sangat ditentang oleh R.M. Said karena dinilai menjadi ujung tombak perpecahan rakyat Mataram. Ia pun menyayangkan mertuanya yang dianggapnya berkhianat karena diangkat sebagai raja oleh VOC.
Sepanjang periode 1752-1757, R.M Said menjalani tiga pertempuran dahsyat, salah satunya adalah pertempuran melawan pasukan Sultan Hamengkubuwana I di Desa Kasatriyan, Ponorogo. Perang itu terjadi pada 1752 Masehi. Perang itulah yang kemudian diceritakan dalam tarian Bedhaya Anglir Mendhung.
Perkambangan Bedhaya Anglir Mendhung
Dalam penciptaan tarian tersebut, Kyai Secakarma dan Kyai Kidung merupakan dua abdi dalem yang membantu dalam yasan tari ini di era Mangkunegara I. Penari Bedhaya Anglir Mendhung menggunakan komposisi 7 gadis.
Tarian ini memiliki tiga rakitan, yakni tari awal, tari pokok, dan tari akhir yang menggunakan gending Kemanak dan Ketawang Mijil.
Baca Juga:Tamu Undangan Dilarang Pakai Batik Parang, Kaesang Pangarep: Kita Kan Cuman Rakyat Biasa
Dalam sejarah perkembangannya, Bedhaya Anglir Mendhung sempat tidak ditarikan di Mangkunegaran selama satu abad lebih. Tari ini baru kembali muncul pada masa Mangkunegara VIII melalui pelacakan K.R.T Sanyoto, Soetopo Koesomoatmodjo, R. Moelyono Sastronaryatmo, dan K.R.Ay. T. Praptini pada 1981.