Rencananya Nur akan tinggal di rumah orang tuanya selama satu minggu. Perempuan berusia 43 tahun tersebut juga sudah memiliki rencana untuk menjelajah tempat-tempat wisata di sekitar Klaten.
"Intinya silaturahmi sama keluarga besar mumpung orang tua saya juga masih ada," tuturnya.
Nggak Bisa Mudik
Sementara itu mendekati gema takbir yang akan berkumandang dua hari lagi. Mela Pauziah nampak tertunduk lesu dan berkaca-kaca lantaran lebaran tahun ini dirinya nggak bisa mudik ke Jambi.
Baca Juga:Demi Sang Buah Hati, Pemudik dari Tangerang Ajak Kucing Kesayangan Mudik ke Semarang
Momen menyedihkan tersebut bukan kali pertama. Selama tujuh tahun merantau di Kota Lunpia, Mela baru dua kali mudik ke kampung halaman. Sisanya ia menjalani momen lebaran tanpa berjumpa dengan orang tuanya.
Biaya perjalanan dan waktu libur yang relatif singkat jadi pertimbangan Mela tidak mudik. Orang tuanya mengerti dan nggak pernah memaksa anaknya untuk mudik setiap tahun.
Sebagai anak yang lahir dan besar di Jambi. Mela tentunya merindukan setiap momen menjelang lebaran bersama keluarganya di rumah.
"Persiapan bikin ketupat, bersih-bersih rumah, dan panas-panasaran berburu baju lebaran adalah momen-momen yang aku rindukan," ujarnya.
Karena keluarganya campuran dari suku Melayu dan Jawa. Perempuan lulusan UIN Walisongo ini juga merindukan sajian masakan yang multi etnis.
Baca Juga:Pj Gubernur Jateng Lepas 11.600 Orang Warganya Mudik Gratis Gunakan Bus
"Makanan tuh benar-benar beragam dari berbagai suku. Misalnya bikin ketupat, gulainya harus khas Betawi. Rendangnya harus khas Minang dan lain-lainnya," cetusnya.