Juara Gendong Barang
Sesuai tugas utamanya sebagai kendaraan angkut, Toyota Hilux Rangga dilengkapi berbagai fitur pendukung untuk memanggul beban. Ada titik pemasangan roof rack di atas kabin yang mampu menahan beban hingga 75 kilogram.
Tatag menambahkan rangka besi di atas bak mobil untuk memaksimalkan kapasitas angkut. Banyak perkakas plafon berukuran lebih dari 5 meter sehingga membutuhkan modifikasi tambahan.
Pada sisi samping dan belakang bak ditempatkan hook pengikat barang. Pada beberapa tipe Hilux Rangga, diaplikasikan bukaan bak tiga arah (three-way opening) untuk memudahkan bongkar-muat.
Baca Juga:Angka Kemiskinan Jateng Anjlok! BPS Ungkap 5 Faktor Kunci di Baliknya
Soal kemampuan memikul beban, Toyota Hilux Rangga pantas diacungi jempol. Meski tertera kapasitas maksimal mengangkut barang 1,2 ton, Tatang pernah menjajal mengisi muatan seberat 2 ton.
“Panjang baknya memang sedikit lebih pendek, tapi bagi kami nggak masalah karena masih bisa angkut di atas. Kita ditambahkan besi di atas supaya kita bisa muat sampai 6 meter. Pernah muatan sampai 2 ton masih oke.”
Desain Kompak
Marketing Counter Nasmoco Magelang, Devi menjelaskan dalam sebulan rata-rata menjual 5 unit Toyota Hilux Rangga. Tidak hanya untuk kebutuhan usaha, Hilux Rangga juga diminati para hobiis mobil.
Desain bak belakang Toyota Hilux Rangga yang fleksibel memungkinkan mobil ini dimodifikasi dalam beragam bentuk. Dari mobil box, campervan, hingga kendaraan pemadam kebakaran.
Baca Juga:4 Jurus Maut Gubernur Ahmad Luthfi Gaet Investor Asing ke Jawa Tengah, 9 Dubes Langsung Diundang
“Ada yang untuk kendaraan angkut motor trail, moge, bengkel modifikasi. Tapi ada juga yang untuk kendaraan mengangkut sayuran, produsen furniture.”
Devi mengakui bahwa peminat Toyota Hilux Rangga adalah kalangan menengah keatas. Selain memenuhi fungsi, konsumen juga mencari kepuasan memiliki kendaraan yang stylish.
“Istilahnya konsumen middle up. Rangga ini didesain untuk kenyamanan selain untuk mobil angkutan. Eksterior Rangga yang boxy jadi lebih menarik. Punya nilai lebih.”
Kontributor : Angga Haksoro Ardi