5 Kritik Timoer Rumbai Terhadap Langkah Mangkubumi Menobatkan Diri sebagai PB XIV

Timoer Rumbai kritik penobatan Mangkubumi PB XIV: tak ada komunikasi keluarga, tak sesuai adat, klaim musyawarah bohong, acara terencana, & enggan dialog langsung.

Budi Arista Romadhoni
Senin, 17 November 2025 | 14:57 WIB
5 Kritik Timoer Rumbai Terhadap Langkah Mangkubumi Menobatkan Diri sebagai PB XIV
Putri tertua PB XIII, GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani. (Suara.com/Ari Welianto)
Baca 10 detik
  • Penobatan Mangkubumi sebagai PB XIV menuai kritik dari Timoer Rumbai karena dianggap tidak mengikuti komunikasi keluarga dan tata adat Keraton Surakarta.
  • Timoer Rumbai membantah klaim Mangkubumi tidak diajak musyawarah, menyoroti upaya dialog telah dilakukan namun tidak mendapatkan respons positif.
  • Upacara penobatan dinilai bertentangan dengan adat karena persiapan logistik dan ritual yang matang menunjukkan acara tersebut tidak dilakukan secara spontan.

3. Upacara penobatan dinilai tidak sesuai tata adat Keraton Surakarta

Putra tertua PB XIII, KGPH Hangabehi saat ditemui di Kasunanan Surakarta pada Kamis (13/11/2025). (Suara.com/Ari Welianto)
Putra tertua PB XIII, KGPH Hangabehi saat ditemui di Kasunanan Surakarta pada Kamis (13/11/2025). (Suara.com/Ari Welianto)

Timoer juga memberikan perhatian besar terhadap aspek adat dalam penobatan. Menurutnya, apa yang dilakukan Mangkubumi dalam acara Gondrawino tidak mencerminkan tata adat Keraton Surakarta.

Ia menyampaikan bahwa Mangkubumi selama ini dikenal sering mengemukakan pentingnya memegang teguh adat dan menjaga nilai-nilai tradisi. Namun tindakan menobatkan diri dengan cara sebagaimana dilakukan justru bertentangan dengan prinsip yang sering ia suarakan.

Selain itu, Timoer mengingatkan bahwa Mangkubumi sebelumnya menyampaikan pesan penting agar putra-putri PB XIII tidak terpecah.

Baca Juga:9 Babak yang Mengurai Konflik Suksesi Keraton Kasunanan Surakarta Setelah Wafatnya PB XIII

Namun keputusan menobatkan diri tanpa komunikasi internal justru dianggap menambah ketegangan dan tidak mencerminkan upaya menjaga kebersamaan keluarga.

4. Banyak tanda penobatan sudah dipersiapkan, bukan spontan seperti yang disebutkan

Pada kritik berikutnya, Timoer menyoroti berbagai tanda yang menunjukkan bahwa acara penobatan tersebut bukan sesuatu yang terjadi mendadak.

Ia mencatat bahwa ada pakaian yang sudah disiapkan, padahal acara resmi semacam itu tentu memerlukan perencanaan.

Selain itu, sajèn wilujengan yang digunakan dalam ritual bukanlah sesuatu yang bisa dibuat dalam satu atau dua jam. Termasuk pula perlengkapan ritual lain yang terlihat sudah ditata sebelumnya.

Baca Juga:Siapa Pewaris Keraton Solo? 10 Fakta Penting Menuju Suksesi Pasca PB XIII

Menurut Timoer, semua ini tidak selaras dengan anggapan bahwa acara di Gondrawino terjadi spontan. Baginya, langkah semacam itu adalah bagian dari proses terencana, sehingga akan lebih bijak jika proses komunikasi dan permusyawaratan dilakukan terlebih dahulu sebelum penobatan dilaksanakan.

5. Tidak ada kesediaan menyelesaikan persoalan secara langsung

Kritik terakhir menyangkut kemauan menyelesaikan masalah secara langsung.

Timoer menyampaikan bahwa dirinya telah berusaha menjalin komunikasi dan mengatur pertemuan keluarga untuk menyatukan langkah dalam situasi pasca wafatnya PB XIII.

Namun menurutnya, upaya tersebut tidak mendapatkan balasan dari Mangkubumi.

Ketidakhadiran respons itu membuatnya menilai bahwa tidak ada komitmen untuk duduk bersama dan membicarakan persoalan secara terbuka.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak